Wednesday, July 4, 2012

MENULIS SEBAGAI PROSES

A.  Pendahuluan
Dalam makalah ini akan dibicarakan tentang menulis sebagai proses, Dan bagaimana dapat dikatakn menulis merupakan sebuah proses, serta apa saja fase dalam penulisan itu. Setelah mempeljari bab ini diharapkan pmahasiswa ekan memami diantaranya : pengertian menulis dan menulis sebagai proses, tahap-tahap yang ada dalam menulis, penalaran yang digunakan dalam menulis, serta pengertian nulis yang sukses dan cara menjadi penulis yang sukses. Kaitannya dengan hal itu terlebih dahulu kita akan mengetahui pengertian dari menulis itu sendiri.  “Menulis adalah segai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahas tulis sebagai alat atau medianya. Tulisan merupalan sebuah simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya( Dalman,2009:8)”.

Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan, misalnya memberi tahu, meyakinkan, atau menghibur. Hasil dari proses kreatif ini biasa disebut dengan istilah karangan atau tulisan. Kedua istilah tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Istilah menulis sering melekatkan pada proses kreatif yang berjenis ilmiah.  Sementara istilah mengarang sering dilekatkan pada proses kreatif yang berjenis non-ilmiah.
(Sumirat dan Nurjamal : 68 http://mardiya.wordpress.com/2010/11/29/menulis-sebagai- proses/). Dengan demikian dapat dikatakan menulis adalah sebuah proses kreatif untuk mengeluarkan gagasan yang berbentuk bahasa tulis sebagai alat atau medianya untuk berkomuniakasi.dengan demikian dalam komunikasi tulis terdapat empat unsur yang terlibat yaitu : (1) Penulis sebagai penyampai pesan, (2) Pesan atau isi tulisan, (3) Saluran atau media berupa tulisan, dan (4) Pembaca sebagai penerima pesan. Menulis memiliki banyak manfaat yang dapat dipetik dalam kehidupan ini diantaranya adalah : (1) peningkatan kecerdasan, (2) pengembangan daya inisiatif dan kreatifitas, (3) penumbuhan keberanian, dan (4) pendorongan kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.

Berkenaan dengan proses menulis terdapat beberapa tahap diantaranya, seperti : (1) Tahap prapenulisan (persiapan), (2) tahap penulisan, (3) tahap pascapenulisan. Tahap prapenulisan merupakan fase persiapan menulis seperti menentukan topik dan tujuan karangan, mengumpulkan informasi serta membuat kerangka karangan. “Tahap penulisan merupakan tahapa untuk mengembangkan ide atau informasi yang diperoleh pada tahap prapenulisan. Tahap pascapenulisan merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram yang kita hasilkan.  (Nurjamal, dan Sumirat: 68 http://mardiya.wordpress.com/2010/11/29/menulis-sebagai- proses/)”.

Membicarakan proses menulis pasti terdapat sebuah penalaran. Penalaran (reasoning) adalah suatu proses berfikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, ataupun sesuatu yang dianggap bahan bukti, menuju pada suatu kesimpulan.(Dalman, 2009:18). Dengan demikian, penalaran dikatakan sebuah proses berfikir sudah barang tentu didalamnya terdapat penelaran induktif  ataupun deduktif. Penalaran induktif adalah suatu roses berfikir yang bertolak dari hal-hal khusus menuju sesuatu yang umum. Penalaran induktif dan corakya dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: Generalisasi, Analogi, Hubunga kausal (sebab-akibat). Sedangkan, “Penalaran deduktif adalah suatu proses berfikir yang bertolak dari sesuatu yang umum yang menuju hal-hal yang khusus atau penerapan sesuatu yang umum pada peristiwa yang khusus untuk mencapai sebuah kesimpulan Penalaran deduktif dan coraknya terdiri atas Silogisme, Entimem. Dalam menulis biasany terdapat salah nalar. Salah nalar adalah kekeliruan dalam proses berfikir  karena keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan. (Dalman, 2009:25). Akan dibicarakan juga tentang kontaminasi seperti kontamanasi kalimat, kontaminasi kata, dan kontaminasi bentukan kata.












II. PEMBAHASAN
B.  Pengertian menulis
“menulis merupakan suatu aktivitas komunikasi bahasa yang menggunakan tulisan sebagai mediumnya.( akhadiah,dkk. 2001:13)”.
“Menulis adalah sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Tulisan merupalan sebuah simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakainya (Dalman,2009 : 8)”.
Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan, misalnya memberi tahu, meyakinkan, atau menghibur. Hasil dariproses kreatif ini biasa disebut dengan istilah karangan atau tulisan. Kedua istilah tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Istilah menulis sering melekatkan pada proses kreatif yang berjenis ilmiah.  Sementara istilah mengarang sering dilekatkan pada proses kreatif yang berjenis nonilmiah.

Menulis dan mengarang sebenarnya dua kegiatan yang sama karena menulis berarti mengarang (baca: menyusun atau marangkai bukan menghayal) kata menjadi kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf, menyusun paragraf menjadi  tulisan kompleks yang mengusung pokok persoalan.
Menulis sebagai keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan  gagasan-pikirannya kepada orang atau pihak lain dengan dengan media tulisan. Setiap penulis pasti memiliki tujuan dengan tulisannya antara lain mengajak, menginformasikan, meyakinkan, atau menghibu pembaca.( Sumirat dan Nurjamal:68 dalam http://mardiya.wordpress.com/2010/11/29/menulis-sebagai- proses/).
Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Dalam komunikasi tulis terdapat empat unsur yang terlibat yaitu : (1) Penulis sebagai penyampai pesan, (2) Pesan atau isi tulisan, (3) Saluran atau media berupa tulisan, dan (4) Pembaca sebagai penerima pesan. Menulis memiliki banyak manfaat yang dapat dipetik dalam kehidupan ini diantaranya adalah :
1.      peningkatan kecerdasan,
2.      pengembangan daya inisiatif dan kreatifitas,
3.      penumbuhan keberanian, dan
4.      pendorongan kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.
Menurut Graves dalam yusuf (2008) seseorang enggan menulis karena tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana harus.
Smith dalam yusuf (2008) mengatakan bahwa pengalaman belajar menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil menulis dan mengajarkannya. Karena itu, untuk menutupi keadaan yang sesuangguhnya muncullah berbagai mitos atau pendapat yang keliru tentang menulis dan pembelajarannya. Diantara mitos tersebut adalah
1.    Menulis itu mudah Teori menulis atau mengarang, memang mudah. Gampang dihafal. Tetapi, menulis atau mengarang bukanlah sekedar teori, melainkan keterampilan. Bahkan, ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat untuk mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang. Seseorang tanpa dilibatkan langsung dalam kegiatan dan latihan menulis, tidak akan pernah mampu menulis dengan baik.
2.     Kemampuan menggunakan unsur mekanik tulisan inti dari menulis
Seseorang perlu memiliki keterampilan mekanik seperti penggunaan ejaan, pemilihann kata, pengkalimatan, pengalineaan, dan pewacanaan dalam mengarang. Namuan, kemampuan mekanik saja tidak cukup, karangan harus mengandung ide, gagasan, perasaan, atau informasi yang akan diungkapkan penulis kepada orang lain.
3.    Menulis itu harus sekali jadi Tidak banyak orang yang dapat menulis sekali jadi. Bahkan, penulis profesional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.
4.    Orang yang tidak menyukai dan tidak pernah menulis dapat mengajarkan menulis Seseorang yang tidak menyukai dan tidak pernah menulis tidak akan mungkin dapat mengajarkan seseorang menulis. Seseorang yang akan mengajarkan menulis harus dapat menunjukkan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya menulis. Dia pun harus dapat mendemonstrasikan apa dan bagaimana mengarang.  ( yusuf, 2008
C.  Menulis Sebagai Proses
Dalam pembelajaran menulis terdapat beberapa pendekatan yang sering digunakan antara lain :
1.  Pendekatan frekuensi menyatakan bahwa banyaknya latihan mengarang akan membantu meningkatkan keterampilan menulis seseorang,
2.  Pendekatan gramatikal menyatakan bahwa pengetahuan seseorang mengenai struktur bahasa akan mempercepat kemahiran dalam menulis,
3.  Pendekatan koreksi menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi penulis yang       baik apabila banyak mendapat masukan dari orang lain,
4.  Pendekatan formal menyatakan bahwa keterampilan menulis akan diperoleh bila pengetahuan bahasa, pengalineaan, pewacanaan serta aturan menulis dikuasai dengan baik.
Sebagai proses, menulis merupakan serangkaian aktivitas yang terjadi dan melibatkan beberapa fase/tahap yaitu:
1.    Tahap prapenulisan (persiapan)
Tahap prapenulisan merupakan fase persiapan menulis seperti menentukan topik dan tujuan karangan, mengumpulkan informasi serta membuat kerangka karangan. Tahap prapenulisan mencakup tahap-tahap berikut diantaranya:
a.    Menentukan topik
Topik adalah pokok persoalan atau permasalahan yang menjiwai seluruh tulisan. Ada pertanyaan pemicu yang dapat digunakan untuk menentukan topik, misalnya: ”Saya mau menulis apa? Apa yang akan saya tulis?
Tulisan saya akan berbicara tentang apa?”. Nah, jawaban atas pertanyaan tersebut berisi topik tulisan.
Topik harus dibedakan dengan tema, karena tema mencakup hal yang lebih umum. Sementara topik sudah mengarah pada hal yang lebih khusus. Jadi, akan lebih tepat bila topik tulisan disejajarkan dengan sub tema.
Masalah yang dihadapi dalam memilih dan menentukan topik tulisan adalah:
1)      Sangat banyak topik yang harus dipilih, karena semua topik menarik. Untuk itu pilihlah yang paling dikuasai.
2)      Tidak memiliki ide sama sekali. Untuk itu, banyaklah membaca buku atau majalah/koran, berdiskusi dengan orang lain, melakukan pengamatan pada persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
3)      Terlalu ambisius sehingga jangkauan topik yang dipilih terlalu luas.
bMenetapkan Tujuan dan Sasaran
Tujuan dan sasaran penulisan harus diperhatikan agar tulisan dapat tersampaikan dengan baik. Tujuan dan sasaran penulisan akan mempengaruhi corak dan bentuk tulisan, gaya penyampaian dan tingkat kerincian isi tulisan. Agar tulisan kita dapat dipahami oleh pembaca, kita harus memperhatikan siapa yang akan membaca tulisan kita, bagaimana level pendidikannya, status sosialnya dan apa yang diperlukannya?.
c.    Mengumpulkan Bahan dan Informasi Pendukung
Ketika akan menulis, kita tidak selalu memiliki bahan atau informasi yag benar-benar siap dan lengkap. Untuk itulah sebabnya, sebelum menulis kita perlu mencari, mengumpulkan, dan memilih informasi yang dapat mendukung, memperluas, memperdalam dan memperkaya tulisan kita. Tanpa pengetahuan dan wawasan yang memadai. Maka, tulisan kita akan dangkal dan kurang bermaka. Karena itulah, penelusuran dan pengumpulan informasi sebagai bahan tulisan sangat diperlukan.
     Mengumpulkan bahan dan informasi untuk mendukung tulisan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti :
1) Wawancara
2) Studi kepustakaan
3) Observasi
4) Diskusi kelompok

d. Mengorganisasikan Ide atau Gagasan
Mengorganisasikan ide atau gagasan penting dilakukan tulisan yang kita buat menjadi saling bertaut, runtut dan padu.
Untuk mempermudah mengorganisasikan ide atau gagasan, maka sebelum menulis kita perlu membuat kerangka tulisan. Kerangka tulisan ini memuat garis-garis besar tulisan yang akan kita buat. Secara umum, kerangka tulisan terdiri atas:
1) Pendahuluan atau pengantar, yang berisi mengapa dan untuk apa menulis topik tertentu serta apa yang akan disajikan.
2) Isi, yang berisi butir-butir penting isi tulisan
3) Penutup.

Seorang penulis mulai dari penulis pemula sampai penulis yang sudah profesional pun, harus tetap mengunakan langkah-langkah pra penulisan, mungkin sebagian orang menganggap langkah-langkah ini sebagai hal yang sepele, namun di lain sisi tahap pra penulisan dapat membantu dan menuntun penulis agar pada saat tahap penulisan nantinya, tulisan yang dihasilkan dapat koheren dan kohesif. Tulisan atau karangan dapat dikatakan kohesif dan koheren apabila memenuhi syarat berikut, karangan tersebut mempunyai kalimat tesis yang dapat mewakili seluruh isi tulisan serta setiap paragraf mempunyai kalimat topik dan hubungan antara kalimat topik dengan kalimat penjelas saling berkaitan. Untuk kita sebagai seorang penulis pemula yang baru seumur jagung dalam dunia tulis menulis, mulailah menulis dari pengalaman yang terjadi sehari-hari. Cobalah dari pengalaman sehari-hari tersebut kita tuangkan semua pikiran, pengalaman dan ide-ide ke dalam bentuk karya tulis, supaya kegiatan menulis tidak hanya dijadikan sebuah pekerjaan untuk mencari uang, melainkan juga dapat dijadikan sebuah kesenangan agar kebiasan menulis tertanam dalam  jiwa kita.

2.    Tahap penulisan
“Tahap penulisan merupakan tahapa untuk mengembangkan ide atau informasi yang diperoleh pada tahap prapenulisan (Nurjamal, dan Sumirat:68 dalam http://mardiya.wordpress.com/2010/11/29/menulis-sebagai- proses/)”. Struktur karangan terdiri atas bagian awal, isi, dan akhir. Awal karangan berfungsi untuk memperkenalkan  sekaligus menggiring pembaca terhadap pokok tulisan kita. Isi karangan menyajikan bahasan topik atau ide utama karangan, berikut hal-hal yang memperjelas atau mendukung ide tersebut seperti: contoh, ilustrasi, informasi, bukti atau alasan. Akhir karangan berfungsi untuk mengembalikan pembaca pada ide-ide inti karangan melalui perangkuman atau penekanan ide-ide penting. (Dalman, 2009:16)

3.    Tahap pascapenulisan
“Tahap pascapenulisan merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram yang kita hasilka  (Nurjamal, dan Sumirat:68 dalam http://mardiya.wordpress.com/2010/11/29/menulis-sebagai- proses/)”. Tahap ini merpakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram (konsep) yang kita hasilkan. Kegiatannya terdiri atas penyuntinganan perbaikan (revisi). Penyuntingan  pemeriksaan dan perbaikan unsur mekanik karangan, seperti ejaan, pungtuasi, diksi, pengkalimatan, pengaleniaan, gaya bahasa, pencatatan kepustakaan, dan konvensi penulisan lainnya. Revisi atas perbaikan lebih mengarahka pada pemeriksaan dan perbaikan karangan .
Langkah-langkah kegiatan penyuntingan dan perbaikan karangan:
a.    Membaca keseluruhan karangan;
b.    Menandai hal-hal yang perlu diperbaiki, atau memberikan catatan bila ada hal-hal yang harus diganti, ditambahkan, disempurnakan; serta
c.    Melakukan perbaikan sesuai dengan temuan saat penyuntingan (Dalman,2009:17).



D.  Langkah-Langkah Menulis

Menulis merupakan kegiatan yang profuktif dan ekspresif, sehingga penulis harus dapat memanfaatkan kemampuan menggunakan tata tulisan, struktur bahasa, dan kosakata. Bila ingin berhasil dalam menulis, sebaiknya mengikuti langkah-langkah tertentu. Menurut Sabarti  dalam Kartimi, 2006: 6-7 dalam http://www.senandung-pena.co.cc/2010/07/pembelajaran-menulis-part-iii.html) sebagai berikut:
1.    Tahap perencanaan
a.    Pemilihan topic
b.    Pembatasan topik/perumusan tujuan
c.    Penyusunan kerangka karangan
2.      Tahap pelaksanaan penulisan
Tahapan ini merupakan tahap pengembangan kerangka karangan yang sudah disusun pada tahap perencanaan dengan menggunakan bahan-bahan sesuai dengan topik yang telah dipersiapkan. Pada tahap penulisan ini perlu diperhatikan:
a. Penyusunan bahasanya, yaitu:
1. Penulisan paragraf yang benar
2. Penulisan kalimat yang efektif
3. Penulisan pilihan kata yang tepat
4. Penulisan ejaan yang benar

b. Teknik penulisan yang sesuai dengan aturan yang berlaku:
1. Cara menulis judul/sub judul
2. Cara menulis kutipan/catatan kaki
3. Cara menulis daftar pustaka
4. Teknik pengetikan

3. Tahap pemeriksaan/revisi
Apabila karangan sudah selesai ditulis, tahap pemeriksaan perlu dilakukan agar tulisan itu lebih sempurna. Mungkin ada yang perlu diperbaiki, dibuang karena informasi itu tidak relevan atau bisa saja ditambah dan diperluas.
Pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh yaitu:
a.    Pemeriksaan melalui kerangka dilihat dari sudut sistematika dan logika;
b.    Periksaan bahasa menyangkut penulisan paragraf, kalimat efektif, pilihan kata, dan ejaan;
c.    Pemeriksaan teknik penulisan. Apakah sudah sesuai dengan pedoman umum ejaan yang disempurnakan?

Sejalan dengan pendapat Sabarti, menurut Hasani dalam http://www.senandung-pena.co.cc/2010/07/pembelajaran-menulis-part-iii.html (2006: 6) menyusun tulisan diperlukan tahap-tahap sebagai berikut:
1)   Tahap Prapenulisan/ Tahap Perencanaan
Tahap prapenulisan merupakan tahap persiapan sebelum menulis. Dalam tahap ini langkah yang ditempuh sebagai berikut :
a.    Menentukan topik
Topik diperoleh dari pengalaman, membaca, pengamatan, pendapat, sikap, dan tanggapan yang dipertanggungjawabkan.
b.    Membatasi topik
Membatasi topik berarti mempersempit dan mengkhususkan lingkup pembi-caraan. Topik yang terlalu luas akan menghasilkan tulisan yang dangkal, tidak mendalam. Topik yang terlalu sempit akan menghasilkan tulisan yang tidak jelas.
c.    Menentukan tujuan
Tahap menentukan tujuan berguna sebagai pola yang didasari tulisan secara menyeluruh. Tujuan yang dirumuskan secara jelas karena merupakan sesuatu yang ingin dicapai dalam kegiatan menulis.
d.   Membuat kerangka karangan
Kerangka tulisan merupakan rencana kerja penulis dalam mengembangkan gagasan. Kerangka tulisan yang disusun secara cermat akan sangat membantu penulis dalam hal-hal berikut:
1.      Membantu penulis dalam mengembangkan tulisan secara teratur sesuai dengan susunan pikiran dalam kerangka.
2.      Mencegah penulis mengulangi bahasa pada bagian-bagian sebelumnya.
3.      Menyajikan pikiran-pikiran pokok yang dapat dirinci dan diperhalus.
4.      Mencegah penulis ke luar dari sasaran yang telah ditentukan sesuai dengan topik atau judul.
5.      Membantu penulis dalam mengatur urusan pembicaraan
6.      Menunjukkan kepada penulis bahan-bahan penulisan yang diperlukan dalam pengembangan gagasan.

e.    Menentukan bahan
Bahan penulisan adalah semua informasi atau data yang digunakan untuk mencapai tujuan penulisan. Bahan penulisan dapat berupa rincian, sejarah kasus, contoh penjelasan, definisi, fakta, hubungan sebab akibat, hasil penelitian, dan sebagainya. Bahan penulisan dapat diperoleh dari berbagai sumber.

2) Tahap penulisan
Tahapan penulisan merupakan bahasan dari semua topik yang terdapat dalam kerangka karangan. Dalam penulisan karangan sangat diperlukan pilihan kata yang tepat, cermat, dan lugas, sehingga dalam tahap penulisan ini, penulis harus dapat mencurahkan seluruh penguasaan kosakata yang dimiliki. Tulisan yang baik adalah tulisan yang tidak lepas dari kaidah-kaidah kebahasaan yang berlaku. Oleh karena itu, dalam hal ini karangan harus ditulis dengan ejaan yang tepat, tanda baca yang tepat, dan sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku.

3) Tahap revisi
Pada tahap ini penulis harus membaca kembali tulisan yang telah dibuat. Kegiatan membaca kembali ini untuk melihat secara teliti bagian-bagian yang perlu mendapat perbaikan, terutama dalam penggunaan ejaan, tanda baca, pilihan kata, paragraf, logika kalimat, sistematika tulisan, pengetikan, dan sebagainya.
Menulis merupakan suatu proses. Didalamnya diperlukan proses-proses agar tulisan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam menentukan tema yang akan diangkat diperlukan intuisi yang kuat dalam mengembangkan gagasan yang akan dituangkan. Konsentrasi dan fokus pada apa yang dikerjakan, setelah selesai bacalah kembali dan lakukan proses revisi agar apa yang ditulis menghasilkan tulisan yang baik.

E.  Penalaran
Ø Pengertian penalaran
Penalaran adalah (reasoning) adalah suatu proses berfikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, ataupun sesuatu yang dianggap bahan bukti, menuju pada suatu kesimpulan (Dalman, 2009:18).
Shurter dan Pierce dalam Shofiah, (2007: 14-15) menjelaskan bahwa secara garis besar terdapat dua jenis penalaran yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif adalah cara menarik kesimpulan khusus dari hal-hal yang bersifat umum. Sedangkan penalaran induktif adalah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat khusus. Menurut Suriasumantri penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang berupa penarikan kesimpulan yang umum atau dasar pengetahuan tentang hal-hal yang khusus. Artinya,dari fakta-fakta yang ada dapat ditarik suatu kesimpulan. (dalam  http://efankhonghucu.blogspot.com/2011/02/penalaran-induktif.html)
Kesimpulan umum yang diperoleh melalui suatu penalaran induktif ini bukan merupakan bukti. Hal tersebut dikarenakan aturan umum yang diperoleh dari pemeriksaan beberapa contoh khusus yang benar, belum tentu berlaku untuk semua kasus. Penalaran adalah proses berfikir yang bertolak dari pengamatan indera yang menghasikan sejumlah konsep dan pengertian.
F.   Bentuk penalaran atau pengambilan kesimpulan
1.    “Penalaran induktif adalah suatu roses berfikir yang bertolak dari hal-hal khusus menuju sesuatu yang umum.(Dalman,2009:18)”. Penalaran induktif dan corakya dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: Generalisasi, Analogi, Hubunga kausal (sebab-akibat).
a.    Generalisasi
Generalisasi atau perampatan ialah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gejala atau peristiwa yang serupa untuk menarik kesimpulan mengenai semua atau sebagian dari gejala atau peristiwa itu. Generalisasi diturunkan dari gejala-gejala khusus yang diperoleh melalui pengalaman, observasi, wawancara, atau study dokumentasi. Sumbernya dapat berupa dokumen, statistik, kesaksian, pendapat ahli, peristiwa-peristiwa politik, sosial, ekonomi, atau hukum. Dari berbagai gejala atau peristiwa khusus itulah orang membentuk opini, sikap, penilaian, keyakinan, atau perasaan tertentu.
 Contoh penalaran generalisasi :
Ø Kambing, sapi, onta, kerbau, kucing, anjing , babi, harimau, gajah, rusa, dan kera, adalah binatang menyusui. Hewan-hewan menghasilkan turunanya melalui kelahiran. Dengan demikian, semua binatang menyusui mereproduksi turunnanya melalui kelahiran.

b.    Analogi
Analogi dilakukan karena antara sesuatu yang dibandingkan dengan pembandingnya memiliki kesamaan fungsi atau peran.
Analogi yang dimaksud dalam menulis karya ilmiah adalah analogi induktif atau analogi logis.

Analogi induktif (kias) adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa atau gejala khusus yang satu sama yang lainmemiliki kesamaan untuk menarik sebuah kesimpulan.

Karena titik tolak penalaran analogi adalah kesamaan karakteristik diantara dua hal, maka kesimpulannya akan menyiratkan “apa yang berlaku ada satu hal akan pula berlaku untuk hal lainnya”. Dengan demikian, dasar kesimpulan yang digunakan merupakan ciri pokok atau esensial yang berhubungan erat dari dua hal yang dianalogikan. Contoh analogi :
Ø Dalam riset medis. misalnya, para peneliti mengamati berbagai efek dari berbagai macam bahan melalui eksperimen binatang seoreri mencit (tikus putih) dan kera, yang dala beberapa hal memiliki kesamaan karakter anatomis dengan manusia. Dari kajian itu akan ditarik kesimpulan bahwa efek bahan-bahan uji coba yang ditemukan pada binatang juga akan terjadi pada manusia.

c.    Hubungan kausal (sebab- akibat)
Corak penalaran kausalitas dapat terwujud dalam pola: sebab ke akibat, akibat ke sebab, dan akibat ke akibat. Penalaran kausalitas memiliki karakteristik:
1. Satu atau beberapa gejala (peristiwa) yang timbul dapat berperan sebagai sebab atau akibat, atau sekaligus sebagai akibat dari gejala sebelumnya dan sebab gejala dari sesudahnya
2. Gejala atau peristiwa yang terjadi dapat ditiimbulkan oleh satu sebab atau lebih dan menghasilkan satu akibat atau lebih
3. Hubungan sebab dan akibat dapat bersifat langsung dan tidak langsung.
Contoh penalaran kausalitas :
Ø Di amerika, diabetes yang tak terkontrol menjadi penyebab utama kebutaan, dan menduduki peringkat ke-4 penyakit yang banyak menimbulkan kematian. Penyakit diabetes yang tak terkontrol ini jga menimbulkan resiko tinggi penyakit jantung, ginjal dan syaraf. Akhir-akhir ini ada kabar baik untuk menyembuhkan diabetes. Suntikan insulin tidak diperlukan untuk sebagian besar penderita diabetes. Untuk jenis diabetes tertentu, yang biasanya menyerang orang-orang lanjt usia atau orang dewasa yang kelebihan berat badan, dapat disembuhkan dengan diet dan olahraga.

2.    Penalaran deduktif
“Penalaran deduktif adalah suatu proses berfikir yang bertolak dari sesuatu yang umum yang menuju hal-hal yang khusus atau penerapan sesuatu yang umum pada peristiwa yang khusus untuk mencapai sebuah kesimpulan (Dalman, 2009:18)”. Penalaran deduktif dan coraknya terdiri atas Silogisme, Entimem.
a.    Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menrunkan sebuah kesimpulan yang merupakan proposisi yang ketiga. Proposisi merupakan pernyataan yang dapay di buktikan kebenaranya atau dapat di tolak karena kesalahan yank terkandung di dalamnya. Silogisme terdiri dari tiga bagian, yaitu:
premis mayor, premis minor, dan Kesimpulan.
Ø Premis adalah proposisi yang menjadi dasar argumentasi.
§  Premis mayor mengandung term mayor dari silogisme, merupakan generalisasi atau proposisi yang di anggap benar bagi semua unsur atau anggota kelas tertentu.
§  Premis mayor mengandung term minor atau term tengah dari silogisme, berisi proposisi yang mengidentifikai atau menunjuk sebuah kasus atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu.
§  Term adalah suatu kata atau frase yang menempati fungsi subjek atau predikat.
§  Kesimpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya.

b.    Contoh silogisme:
Ø Silogisme kategorial:
o  Premis mayor – semua cendikiawan adalah pemikir.
o  Premis minor – budi adalah cendikiawan
o  Kesimpulan – jadi, budi adalah pemikir
Ø Silogisme kondisional atau hipotesis atau pengandaian:
o  Premis mayor – kalau rupiah mengalami devaluasi, harga-harga barang akan naik.
o  Premis minor – rupiah mengalami devaluasi.
o  Kesimpulan – harda-harga barang akan naik.
Ø Silogisme alternatif (pilihan):
o  Premis mayor – penyebab kegagalan panen sekarang adalah kekurangan air atau hama.
o  Premis minor – penyebab kegagalan panen sekarang bukan hama.
o  Kesimpulan – sebab itu, kegagalan panen sekarang adalah kekurangan air.
c.    Prinsip – prinsip silogisme
Ø Sebuah silogisme hanya terdiri atas tiga proposisi: premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
Ø Jika sebuah silogisme mengandung sebuah premis yang positif dan sebah premis negatif (menggunakan kata tidak atau bukan), maka kesimpulannya harus negatif.
o  Premis mayor: semua guru SD ynag telah mencapai golongan III tidak perlu meengikuti program D II guru SD.
o  Premis minor: razad adalah guru SD yang telah mencapai golongan III.
o  Kesimpulan: karena itu, razad tidak perlu mengikuti program D II guru SD.
Ø Dari dua buah premis yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan.
Premis mayor: indonesia bukanlah negara agama.
Premis minor: rocki adalah orang yang tidak beragama.
Kesimpulan: jadi, rocki adalah orang indonesia.
Ø Premis mayor yang benar belum tentu menghasilkan kesimpulan yang benar jika proses penyimpulannya keliru.
o  Premis mayor: manusia adalah mahluk berakal budi.
o  Premis minor: junaidi bodoh
o  Kesimpulan: jadi, junaidi bukan mansia.
d.   Entimem
Entimem adalah bagian silogisme yang dianggap telah dipahami, dihilangkan dengan tujuan demi kepraktisan.
Ø Contoh entimem
o  Premis mayor: semua rentenir adalah pengisap darah orang yang sedang Kesusahan
o  Premis minor: pak jadam adalah rentenir.
o  Kesimpulan: jadi, pak jadam adalah penghisap darah orang yang sedang Kesusahan
o  Bentuk entimem: pak jadam adalah rentenir, yang menghisap darah orang sedang dilanda kesusahan.
Untuk mengetes keabsahan sebuah entimen, kembalikanlah pada silogisme asal yang lengkap, dengan mengacu pada prinsip-prinsip silogisme diatas.


G. Salah nalar
Salah nalar adalah kekeliruan dalam proses berfikir  karena keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan. (Dalman, 2009:25).
Macam-macan salah nalar:
1.    Generalisasi yang terlalu luas
2.    Kerancuan analogi
3.    Kekeliruan kausalitas (sebab-akibat)
4.    Kesalahan relevansi (karena kekurangpahaman, pengabaian, atau penyembunyian masalah sesungguhnya)
5.    Kesalahan karena menyandarkan pendapat atau alasan mengenai suatu masalah terhadap seorang tokoh atau ahli di luar kepakarannya.

H.  Gejala kontaminasi
Kontaminasi adalah suatu gejala bahasa yang dalam bahasa indonesia diistilahkan dengan kerancunan artinya kekacauan.( Badudu, 1985:51)
apa yang rancu?
Kerancuannya yaitu susunan, Perserangaian, penggabungan. Gejala kontaminasi dapat dibedakan sebagai berikut:
1.    Kontaminasi kalimat
Pada umumnyakalimat yang rancu dapat kita kembalikan kepada dua kalimat asal yang benar strukturnya. Demikian dengan susunan kata dalam suatu frase yang rancu. Gejala kontaminasi timbul karena dua kemungkinan yaitu:
a.    Orang yang kurang menguasai penggunaan bahasa yang tepat, baik dalam penyusunan kalimat atau frase, maupun penggunaan imbuhan.
b.    Kontaminasi terjadi tidak dengan sengaja karena ketika seseorang akan menuliskan atau mengucapkan sesuatu, dua pengertian yang sejajar timbul sekaligus dalam pemikirannya sehingga yang diambilnya itu dari yang pertama, dan sebagian dari yang kedua. Gabungan ini melahirkan susunan yang kacau.
Contoh:
Kalimat Rancu
Disekolah murid-murid dilarang tidak boleh merokok
Kalimat Asal
1a. Disekolah murid-murid dilarang merokok
1b. Disekolah murid-murid tidak boleh merokok
2.    Kontaminasi kata
Sebagai contoh yang paling sering kita jumpai dalam pemakaian bahasa sehari-hari ialah kata seringkali dan berulang kali. Kata ini terjadi dari kata : berkali-kali dan berulang-ulang.

Contoh :
Telah berkali-kali/berulang-ulang ia kunasihati, tetapi tidak juga berubah kelakuannya.
Jadi,kata berkali-kali/beulang-ulang itu lebih tepat jika diganti menjadi kata sering kali/berulang kali.
3.    Kontaminasi bentukan kata
Adakalanya kita lihat bentuk kata dengan berbagai imbuhan (afiks) sekaligus memperlihatkan gejala kontaminasi.
contoh : kata dipelajarkan : “disekolah kami dipelajarkan beberapa kepandaian wanita.
Mengapa dipelajarkan?, jelas disini dirancukan bentuk diajarkan dengan dipelajari. Bentuk yang tepat pada kalimat diatas ialah diajarkan. ( Badudu, 1985:51-52).

I.     Ciri-ciri penulisan yang baik itu antaralain :
a.    Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis menggunakan nada yang serasi
b.    Tulisan yang baik mencerminkan kemammpuan sang penulis menyusun bahan-bahan menjadi satu kesatuan yang utuh.
c.    Tulsan yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis untuk menulis dengan jelas dan tidak samar-samar.
d.   Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis untuk menulis secara meyakinkan.
e.    Tulisan yang baik mencerminkan kemampuan sang penulis untuk mengkritik naskah tulisannya yang pertama serta memperbaikinya.
f.     Tulisan ya baik mencerminkan kebanggaan sang penulis dalam naskah : mempergunaan ejaan dan tanda baca yang seksama, memeriksa makna dan hubungan ketatabahasaan sebelum menyajikan pada pembaca. (adelstein dan pival, 1976 : 21 dalam Tarigan, 1981 : 6-7).
g.    Kejujuran dalam bahasa, berarti mengikati aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata kabur dan tidak terarah; menggunakan kalimat berbelit-belit mengundang ketidak jujuran. (keraf, 1988:133).
Diatas telah diyebutkan ciri-ciri penulis yang baik. Dengan demikian, kita dapat menjadi seorang yang sukses setelah kita mempehatikan sub-sub bahasan  tentang menulis sebagai proses. Untuk itu kita harus memperaktekkanya untuk menjadi seorang penulis. Sebelumnya, kita juga harus tehu terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan penulis yang sukses itu sendiri. Banyak para ahli memberikan definisi tentang hal itu diantaranya, seperti :

Wilson (1983:25)  mengatakan “penulis yang sukses ialah penulis yang telah mencapai dampak regional, bukan yang lokal saja, melalui karya sastranya dan memperoleh nafkah yang cukup dari karya-karyanya itu sendiri yang dapat memenuhi keperluan hidunya,tidak lagi mengalami kesukaran dalam soal keuangan”.

Hal ini berarti penulis yang sukses yaitu penulis yang telah mecap.ai dampak regional (kedaerahan) dengan karyanya yang telah ditulis dan dibaca secara luas. Penulis yang sukses tidak lakal dangan kata lain karya tulisnya hany berlaku pada satu tempat. Sebagai penulis yang sukses melalui karyanya itu sendiri dapat memenuhi kebutuhan hidupnya karena tidak lagi mengalami kesukan dalam soal keuangan dari hasil karya yang ditulisnya. Oleh karena itu, dapat kita lihat bagaimana sorang yang telah sukses dri kaya tulis yang telah ia buat berdampak baik dari dalam kepopleran dan kehidupannya.

“Seorang penulis yang sukses ialah penulis yang dapat memperoleh uang yang cukup untuk manunjang kehidupannya”.(Alden Hatch dalam wilson :26).

Hal  ini berarti penulis yang sukses merupakan penulis yang dapat memberikan perubahan yang baik bagi kebutahan hidupnya melalui karya yang telah ia tulis. Boleh jadi, Ia akan menjadi orang yang sukses dalam kehidupannya melalui karya-karya yang telah ia garap. Dengan kepiyawaian yang telah dimiliki Ia dapat mengeruk keuntungan yang banyak untuk mendapatkan uang hanya dalam satu kayanya saja.  Dengan demikian, dapat disimpulksn bahwa seorang penulis yang sikses merupakan penulis yang telah mencapai damak regionoal (bersifat daerah), bukan hanya lokal saja (suatu tempat) yang melalui karyanya tulisnya dapat mendapatkan uang yang mencukupi dalam kehidupannya.
























III.   PENUTUP
A.  Simpulan
Setelah selesai dengan pembahasan ini dapat disipulkan bahwa menulis merupakan sebuah proses kreatif untuk mengeluarkan gagasan yang berbentuk bahasa tulis sebagai alat atau medianya untuk berkomuniakasi. Menulis dapat diakatakan sebagai proses karena menulis memiliki fase atau tahap-tahap dalam menulis, seperti : tahap prapenulisan merupakan fase persiapan menulis seperti menentukan topik dan tujuan karangan, mengumpulkan informasi serta membuat kerangka karangan. Tahap penulisan Tahap penulisan merupakan tahapa untuk mengembangkan ide atau informasi yang diperoleh pada tahap prapenulisan. Tahap pascapenulisan Tahap pascapenulisan merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram yang kita hasilkan. Dalam prapenulisan meliputi seperti ; menentukan topik, menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpukan bahan dan informasi pendukung, mengorganisasikan ide dan gagasan. Pada tahap penulisan membicarakan struktur karangan yang terdiri atas awal, isi, dan akhir karangan. Sedangkan pascapenulisan  didalamnya terdapat penyutingan perbaikan, penyuntin perbaikan unsur-unsur karangan seperti; ejaan, pengtuasi (tanda baca), diksi, pengkalimatan, pengkaleniaan, gaya bahasa, pencatatan kepustakaan, dan konvensi penulis lain.

Penelaran  merupakan suatu proses berfikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, ataupun sesuatu yang dianggap bahan bukti, menuju pada suatu kesimpulan. Didalam penalaran ini juga terdapat bepenalaran induktif dan deduktif. Penalaran induktif adalah suatu roses berfikir yang bertolak dari hal-hal khusus menuju sesuatu yang umum. Sedangkan, Penalaran deduktif adalah suatu proses berfikir yang bertolak dari sesuatu yang umum yang menuju hal-hal yang khusus atau penerapan sesuatu yang umum pada peristiwa yang khusus untuk mencapai sebuah kesimpulan.

Salah nalar dan kontaminasi. Salah nalar adalah kekeliruan dalam proses berfikir  karena keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan, yang meliputi : Generalisasi yang terlalu luas, Kerancuan analogi, Kekeliruan kausalitas (sebab-akibat), Kesalahan relevansi (karena kekurangpahaman, pengabaian, atau penyembunyian masalah sesungguhnya), Kesalahan karena menyandarkan pendapat atau alasan mengenai suatu masalah terhadap seorang tokoh atau ahli di luar kepakarannya. Kontaminasi adalah suatu gejala bahasa yang dalam bahasa indonesia diistilahkan dengan kerancunan artinya kekacauan, yang meliputi kontemplasi kalimat, kata, dan bentukan kata. Dangan kita dapat memahami materi ini insyaallah maka kita dapat menjadi penulis yang sukses. Penulis yang sikses merupakan penulis yang telah mencapai damak regionoal (bersifat daerah), bukan hanya lokal saja (suatu tempat) yang melalui karyanya tulisnya dapat mendapatkan uang yang mencukupi dalam kehidupannya.

B.  Saran
Sebagai calon guru kita memerlukan sebuah kekreatifan dalam mengenbangakan potensi yang dimiliki oleh peserta didik kita. Seperti; keterampelan menulis, segai calon guru munulis merupakan salah satu keterampilan penting untuk bekal kita dalam mengajar nanti. Oleh karena itu, kita harus mengasah keterampilan itu agar kita dapat menjadi guru yang kreatif dan profesional dalam mengajar nanti. Dalam hal ini kita harus menguasai tentang keterampelan menulis.















DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti;dkk. 2001. Menulis I. Jakarta: Universitas Terbuka (UT).
Badudu, J.S. 1985. Pelik-Pelik  Bahasa Indonesia. Bandung : Pustaka Prima.
Dalman. 2009. Keterampilan Menulis. Bandar Lampung.
Friday. 2010. Menulis Sebagai Prosres. [online]. Tersedia: http://www.senandung-pena.co.cc/2010/07/pembelajaran-menulis-part-iii.html. [26  Februari 2010 at 2:01am].
Friday. 2010.Menulis Senagai Proses. [online]. Tersedia:
Friday. 2010. Menulis Sebagai proses. [online]. Tersedia:
Friday. 2010. Menulis Sebagai Prosres. [online]. Tersedia:
Keraf, Gorys. 1988. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia.
Nadeak, wilson. 1983. Bagaimana Menjadi Penulis yang Sukses?. Bandung: Gramedia.
Tarigan, Henry Guntur. 1981. Menulis; Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung Angkasa.
Yusuf, Mohammad Suparno. 2008. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka (UT).