Monday, June 11, 2012

ANALISIS PUISI “ DOA“KARYA CHAIRIL ANWAR


ANALISIS PUISI “ DOAKARYA CHAIRIL ANWAR
1. Puisi Doa karya Chairil Anwar
Doa
Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
2. Analisis Unsur Intrinsik
a) Tema
Puisi Doa karya Chairil Anwar di atas mengungkapkan tema tentang ketuhanan. Hal ini dapat kita rasakan dari beberapa bukti. Pertama, diksi yang digunakan sangat kental dengan kata-kata bernaka ketuhanan. Kata dua yang digunakan sebagai judul menggambarkan sebuah permohonan atau komunikasi seorang penyair dengan Sang Pencipta. Kata-kata lain yang mendukung tema adalah: Tuhanku, nama-Mu, mengingat Kau, caya-Mu, di pintu-Mu. Kedua, dari segi isi puisi tersebut menggambarkan sebuah renungan dirinya yang menyadari tidak bisa terlepas dari Tuhan.
Dari cara penyair memaparkan isi hatinya, puisiDoasangat tepat bila digolongkan pada aliran ekspresionisme, yaitu sebuah aliran yang menekankan segenap perasaan atau jiwanya.. Perhatikan kutipan larik berikut :
(1) Biar rusah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
(2) Aku hilang bentuk
remuk
(3) Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Puisi yang bertemakan ketuhanan ini memang mengungkapkan dialog dirinya dengan Tuhan. Kata Tuhan yang disebutkan beberapa kali memperkuat bukti tersebut, seolah-olah penyair sedang berbicara dengan Tuhan.
b) Nada dan Suasana
Nama berarti sikap penyair terhadap pokok persoalan (feeling) atau sikap penyair terhadap pembaca. Sedangkan suasana berarti keadaan perasaan pembaca sebagai akibat pembacaan puisi.
Nada yang berhubungan dengan tema ketuhanan menggambarkan betapa dekatnya hubungan penyair dengan Tuhannya. Berhubungan dengan pembaca, maka puisi Doa tersebut bernada sebuah ajakan agar pembaca menyadari bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Karena itu, dekatkanlah diri kita dengan Tuhan. Hayatilah makna hidup ini sebagai sebuah pengembaraan di negeri asing.
c) Perasaan
Perasaan berhubungan dengan suasana hati penyair. Dalam puisi Doa gambaran perasaan penyair adalah perasaan terharu dan rindu. Perasaan tersebut tergambar dari diksi yang digunakan antara lain: termenung, menyebut nama-Mu, Aku hilang bentuk, remuk, Aku tak bisa berpaling.
d) Amanat
Sesuai dengan tema yang diangkatnya, puisi Doa ini berisi amanat kepada pembaca agar menghayati hidup dan selalu merasa dekat dengan Tuhan. Agar bisa melakukan amanat tersebut, pembaca bisa merenung (termenung) seperti yang dicontohkan penyair. Penyair juga mengingatkan pada hakikatnya hidup kita hanyalah sebuah pengembaraan di negeri asing yang suatu saat akan kembali juga. Hal ini dipertegas penyair pada bait terakhir sebagai berikut:
Tuhanku,
Di Puntu-Mu Aku mengetuk
Aklu tidak bisa berpaling

Referensi
Abdul Rani, Supratman. 2004. Intisari Sastra indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Anwar, Chairil. 1977. Deru Campur Debu. Jakarta. Pustaka Rakyat.
Culler, Jonatan. 1975. Structuralist Poetics: Structuralim Linguistics and the Study of Literature, London: Rotledge & Kegan Paul.
Djojosuroto, Kinayati. 2004. Puisi Pendekatan dan Pembelajaran. Jakarta: Nuansa.
Analisislah puisi berikut berdasarkan tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanatnya!
BERSATULAH PELACUR-PELACUR KOTA JAKARTA
Sarinah,
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu
Dan kau, Dasima
Kabarkan kepada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapar kendur tak berdaya
Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapih
Kongres-kongres dan konfrensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tidak pernah berkata tidak
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan tak lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau memuka paha
Sedang di luar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada……..
Analisislah puisi berikut berdasarkan tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanatnya!
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
Di leher kukalungkan oleh-oleh buat si pacar
Angin membantu, laut terang, tapi terasa
Aku tidak kan sampai padanya
Di air yang tenang, angina mendayu
Di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertahta, sambil berkata
Tujukan perahu ke palabuhanku saja
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang sama kan rapuh
Mengapa ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku!
Manisku jauh di pulau
Kalau ku mati, dia mati iseng sendiri.
(Chairil Anwar)
Analisislah puisi berikut berdasarkan tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanatnya!
AKU
Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlusedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan yang terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hinlang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar)
Analisislah puisi berikut berdasarkan tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanatnya!
MENYESAL
Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Semarang petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi
Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu miskin harta
Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma
Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke atas padang bakti
Analisislah puisi berikut berdasarkan tema, nada dan suasana, perasaan, dan amanatnya!
PEMBARINGAN
(Doa untuk Ibu)
Ibu,
Segala damba
Mencari tanda
Rindu di belukar
Membatu
Hilang suara
Ke mana kini
Merapat dekat
Menggapai hangat
Kepagi lelap
Tinggal kelambu
Bisu
Berdebu
Bangunlah, ibu
Bagimu yang dulu, kini
Hilang lampu
(Cahaya sadar)