Wednesday, June 20, 2012

pengertian SEMANTIK


SEMANTIK
Pengertian Semantik yang semula berasal dari bahasa Yunani, mengangung makna to signify atau pemakaian. Sebagai istilah teknis, semantic pengandung pengertian “study tentang makna”. Dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantic merupakan bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam hal ini juga menduduki tingkatan tertentu. Apabila komponen bunyi umumnya menduduki tingkatan pertama, tata bahasa pada tingkat kedua, maka komponen makna menduduki tingkatan paling akhir.

Menurut Lehrer semantik adalah studi tentang makna. Sedangkan menurut Verhaar mengatakan bahwa semantic berarti teori makna atau teori arti (Inggris semantics, kata sifatnya semantic yang dalam BI dipadankan dengan kata semantik sebagai nomina da semantic sebagai ajektiva). Dalam Ensiklopedia Britanika (Encyclopaedia Britanica, Vol. 20, 1965:313) yang terjemahannya semantic adalah studi tentang hubungan antara suatu pembeda linguistick dengan hubungan preoses mental atau symbol dalam aktivitas bicara.

Semantik dan Psikologi, Hubungan yang begitu erat antara bahasa dengan aspek kejiwaan manusia, salah satunya ditandai  oleh kenadiran disiplin ilmu yang mengkaji linguistik dari sudut psikologi. Disiplin ilmu yang dimaksud adalah psikolinguistik. Disiplin tilmu tersebut selain mengkaji masalah proses belajar bahasa, baik secara teseptif maupun produktif. Seorang filsuf yang juga berpengaruh besar dalam bidang psikologi, Jhon Locke, mengungkapkan bawa pemakaian kata-kata juga dapat diartikan sebagai penanda bentuk gagasan tertentu karena bahasa juga menjadi instrument pikiran yang mengacu pada suasana maupun realitas tertentu.

Semantik dan Antropologi, Batas antara antropologi dengan sosiologi sering kali kabur karena keduanya mengkaji masalah manusia dalam masyarakat. Roger T. Bell, dalam membedakan bentuk kajian kedua disiplin ilmu itu, menyimpulkan bahwa (1) pusat kajian antropologi adalah pada sekelompok masyarakat tertentu, sedangkan sosiologi pada kelompok masyarakat yang lebih luas, (2) antropologi mengkaji perkembangan masyarakat yang relatif homogen dengan berbagai karakteristiknya, sedangkan sosiologi mengkaji proses perkemangan social-ekonomi masyarakat yang heterogen.
Hubungan semantik dengan fenomena sosial dan kultural pada dasarnya memang sudah selayaknya terjadi. Disebut demikian karena aspek sosial dan kultural sangat berperanan dalam menentukan bentuk perkembangan maupun perubahan makna kebahasaan. Dalam menentukan fungsi dan komponen semantik bahasa, Halliday mengemukakan adanya tiga unsur yang tidak dapat dipisah-pisahkan, yang meliputi (1) ideational, yakni si pesan yang disampaikan, (2) interpersonal, makna yang hadir bagi pemeran dalamperistiwa turunan, serta (3) texstual, bentuk kebahasaan wujudnya makna tuturan.

Semantik dan Kesastraan, Sastra sebagai salah satu bentuk kreasi seni, menggunakan bahasa sebagai media pemaparnya. Akan tetapi berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari, bahasa dan karya sastra memiliki kekhasannya sendiri. Disebut demikian karena bahasa dalam sastra merupakan salah satu bentuk idiosyncration di mana tebaran kata yang digunakan merupakan hasil pengolahan dalam ekspresi individual pengarangnya.

Semantik dan Linguistik, Dalam kajian filsafat kaum stoik, digunakan istilah signans sebagai komponen terkecil dari tanda, dan signatum, yakni makna yang diacu oleh signans. Konsep tersebut dalam kajian kebahasaan dikembangkan oleh Ferdinand de Saussere yang mengintroduksi istilah significant, yakni gambaran bunyi abstrak dalam kesaradan, serta signifie, yakni gambaran dunia luar dalam abstrak kesadaran yang diacu oleh signifiant. Kedua unsur dasar kebahasaan itu pada dasarnya merupakan unsur-unsur yang masih belum digunakan dalam komunikasi.
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa makna adalah unsur yang menyertai aspek bunyi, jauh sebelum hadir dalam kegiatan komunikasi. Sebagai unsur yang melekat pada bunyi, makna juga senantiasa menyertai system relasi dan kombinasi bunyi dalam suatu struktur yang lebih besar seperti yang akhirnya terwujud dalam kegiatan komunikasi.

Jenis-jenis Makna, Kita ketahui bahwa kata memiliki makna kognitif (denotatif; deskriptif), makna konotatif dan makna emoitif . Kata dengan makna kognitif diitemukan dalam kehidupan sehari-hari, dan kata kognitif ini sering dipakai di bidang teknik. Kata konotatif di dalam bahasa Indonesia cenderung bermakna negative, sedangkan kata emotif memiliki makna positif.

Makna Sempit, adalah makna yang lebih sempit dari keselurhan ujaran. Makna yang asalnya lebih luas dapat menyempit, karena dibatasi. Bloomfield mengemukakan adanya makna sempit dan makna luas di dalam perubahan makna ujaran.

Makna Luas, adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan. Kata-kata yang berkonsep memiliki maka luas dapat muncul dari makna yang sempit. Contoh: Pakaian dalam dengan pakaian, Kursi roda dengan kursi, Menghidangkan dengan menyiapkan.

Makna kognitif, disebut juga makna deskriptif atau denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif adalah makna lugas, makna apa adanya. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk yang makna kognitifnya khusus. Makna kognitif adalah makna sebenarnya, bukan makna kias atau perumpamaan.

Makna konotatif dan emotif, Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif), kedalam makna kognitif tersebut ditambah komponen makna lain. Contoh: Perempuan itu ibu saya. Ah, dasar perempuan. Pada contoh pertama merupakan makna kognitif, sedangkan pada contoh kedua selain bermakan kognitif tetapi juga memiliki makna konotatif
Makan emotif adalah makna yang melibatkan perasaan (pembicara dan pendengar; penulis dan pembaca) kearah yang positif. Didalam bahasa Indonesia cenderung berbeda dengan makna konotatif; makna emotif cenderung mengacu kepada hal-hal (makna) yang positif; sedangakan makana konotatif cenderung mengacu kepada hal-hal (makna) yang negative. Contoh: Sudahkah Anda petik bunga di kebun itu?, Ini adalan bunga di kampong itu, Katakanya dengan bahasa bunga, Bicara berbunga-bunga sampai tidak tahu lagi apa maksudmnya.

Makna Referensial, adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan). Contoh: 1. Orang itu menampar orang.
Pada (1) orang 1 dibedakan maknanya dari orang2, karena orang 1 sebagai pelaku (agenti) dan orang2 sebagai pengalam (yang mengalami makna yang diungkapkan verba).

Makna Leksikal dan Makna Gramatikal, Makna leksikal adalah makna kata yang berdiri sendiri baik dalam bentuk dasar maupun dalam bentuk kompleks (turunan) dan makna yang ada tetap seperti apa yang dapat kita lihat dalam makna kamus. Sedangkan makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat digabungkannya sebuah kata dalam sebuah kalimat. Makna gramatikal dapat juga timbul sebagai akibat dari proses gramatikal seperti afiks, reduplikasi, dan komposisi.

Makna Konstruksi, adalah makna makna yang terdapat pada makna kontruksi, mis., makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang yang menunjukkan kepunyaan. Contoh: Ini buku saya, Saya baca buku saya, Perempuan itu ibu saya

Makna Idesional, adalah makna yang munculsebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep. Kata yang dapai dicari kosepnya atau ide yang terkandung di dalam satuan kata-kata, baik bentuk dasar maupun turunan.

Makna Proposisi, adalah makna yang muncul bila kita membatasi pengertian tentang sesuatu. Kata-kata dengan makna proposisi kita dapatkan di bidang matematika, atau bidang eksakta. Maka proposisi mengandung pula saran, hal,rencana, yang dapat dipahami mrlalui konteks. Contoh: Satu tahun sama dengan dua belas bulan, Matahari terbit dari ufuk timur, Satu hari sama dengan dua belas jam.

Makna Pusat, adalah makna yang dimiliki setiap kata yang menjadi inti ujaran. Setiap ujaran (klausa,kalimat, wacana) memiliki makna yang menjadi pusat (inti) pembicaraan. Makna pusat disebut juga makna tak berciri. Mkana pusat dapat hadir pada konteksnya atau tidak hadir pada konteksnya.

Makna Piktorial, adalah makan suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengan atau pembaca. Mis. Pada situasi makan berbicara tentang sesuatu yang menjijikan dan menimbulkan perasaan jiji bagi si pendengar, hingga ia menghentikan kegiatan maka. Contoh: Ah, konyol dia. Ia tinggal di gang yang becek itu.

Makna Idiomatik, adalah makna leksikal terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna yang berlainan. Makna idiomatik didapatkan di dalam ungkapan dan pribahasa.
Contoh: Ia bekerja membanting tulang bertahun-tahun. Aku tidak akan bertekuk lutut di hadapan dia.

Relasi Makna, adalah hubungan semantic yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lain.

Sinonim, Kata sininim terdiri dari sin (“sama” atau “serupa”) dan akar kata onim “nama” yang bermakna “sebuah kata yang dikelompokkan dengan kata-kata lain di dalam klasifikasi yang samaberdasarkan makna umum”. Dengan kata lain sinonim suatu istilah yang mengandung pengrtian telaah, keadaan, nama lain. Contoh: Mati : mampus, Berusaha : berupaya, Memberitahukan : menyampaikan

Homonim, Istilah homonym (Inggris: homonymy) berasal dari bahasa yunani kuno, ( (onoma = nama, dan homos = sama) secara harfiah, homonym adalah nama lai untuk benda yang lain. Verhaar (1983: 135) mengatakan, homonym adalah ungkapan yang bentuknya sama dengan suatu ungkapan lain, tetapi dengan perbedaan makna diantara kedua ungkapan tesebut. Dengan kata lain homonin adalah bentuknya sama (tulisan, dan pengucapannya sama) tetapi berbeda makna. Contoh: Bisa yang berarti sanggup; mampu; dan dapat, sedangkan bias juga yang berarti racun ular. Padan yang berarti batas, sedangkan padan juga berarti batas.
Factor-faktor yang yang menyebabkan terjadinya homonim adalah: kata-kata yang berhomonim itu berasal dari bahasa atau dialik yang berlainan, kata-kata yang berhomonim itu tejadi sebagaimana hasil proses morfologis.

Antonim, Istilah antonim, berasal ari bahasa Yunani kuno, (onoma = nama, anti = melawan). Makna harfiahnya, nama lain untuk benda yang lain. Dapat dikatakan juga bahwa antonom adalah kata-kata yang maknanya berlawanan. Contoh: Besar : kecil, Mudah : sukar, Hidup : mati
Dilihat dari segi hubungannya antonim dapat dibagi menjadi: Antonim yang bersifat mutlak, Antonim yang bersifat relative atau bergradasi, Antonim yang bersifat rasional, Antonin yang bersifat hiearkial, Antonim majemuk adalah satuan ujaran yang memiliki pasangan antonym lebih dari satu.

Polisemi, adalah kata atau satuan ujaran yang mempunyai makna lebih dari satu. Umpamanya kata kepala. Bisa memiliki makna lebih dari satu. Kepala bias menunjukkan untuk kepala surat, kepala manusia, dan kepala sebutan untuk pimpinan atau ketua.

Hiponim, adalah ungkapan yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna sesuatu ungkapan lain. Misalnya kata merah merupakan hiponim warna; kata warna tidak berada di bawah merah, melainkan di atas kata merah.

Perubahan Makna
Perubahan makna mencakup banyak hal. Perubahan makna terjadi pula karena akibat perubahan lingkungan. Perubahan makna terjadi pula karena akibat pertukaran tangapan indra. Perubahan makna boleh juga terjadi karena gabungan leksem.

General, atau perluasan adalah suatu proses perubahan makna kata dari yang lebih khusus ke yang lebih umum, atau dari yang lebih sempit ke yang lebih luas.
Contoh: kata bapak dulu digunakan hanya untuk memanggil orang tua kandung akan tetapi pada masa kini kata bapak digunakan untuk semua orang yang berkedudukan lebih tinggi; tuan.

Ameliorasi, Kata ameliorasi (yang berasal dari bahasa Latin melior ‘lebih baik’) berarti ‘membuat menjadi lebih baik, lebih tinggi, lebih anggun, lebih halus’. Dengan kata lain perubahan ameliorative mengacu kepada peningkatan makna; makna baru dianggap lebih baik atau lebih tinggi nilainya daripada makna dulu.
Contoh: Kata istri lebih baik, lebih hormat dari pada bini, Kata hamil lebih baik, lebih hormat dari pada bunting.

Peyorasi, adalah suatu proses perubahan makna kata menjadi lebih jelek atau lebih rendah daripada makna semula. Kata peyorasi berasal dari bahasa Latin pejor yang berarti ‘jelek, buruk’. Proses peyoratif ini adalah kebalikan dari proses ameliorative. Contoh: kata tuli yang pada masa dulu tidak dirasakan mengandung makna yang jelek, tetapi pada masa kini dirasakan kurang baik, kurang sopan dan terasa kasar.

Spesialisasi, Proses spesialisasi atau pengkhususan, penyempitan mengacu kepada suatu perubahan yang mengakibatkan makna kata menjadi lebih khusus atau lebih sempit dalam aplikasinya.. Contoh: kata preman. Kata preman pada masa dulu berarti partikelir, bukan tentara; sedangkan pada masa kini berarti brandalan.

Sinestesia, Ada sejenis perubahan makna yang terjadi sebagai akibat  pertukaran tanggapan antara dua indera yang berbeda. Perubahan makna yang seperti ini disebut sinestesia.Contoh: Hatinya busuk benar, Namanya sudah harum.
Kata busuk dan harum yang dipakai pada kedua kalimat di atas sebenarnya tanggapan indera pencium;

Asosiasi, Ada pula semacam perubahan makna yang terjadi sebagai persamaan sifat. Perubahan makna seperti ini disebut asosiasi. Contoh: Kursi itu telah lama diidam-idamkan, Saya naik Garuda ke Medan.
Kata kursi pada kalimat di atas berasosiasi atau bersamaan sifat dengan kedudukan, jabatan, atau posisi.