Wednesday, June 20, 2012

KECEPATAN MEMBACA DAN MENGUKUR KEMAMPUAN MEMBACA (Makalah)


KECEPATAN MEMBACA DAN MENGUKUR
KEMAMPUAN MEMBACA

(Makalah)





KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga kami kelompok IV dapat menyusun makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada :
1.      Dr. Dalman, M. Pd, selaku dosen pembimbing Mata Kuliah Membaca
2.      Teman-teman yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini

Makalah ini disusun berkaitan dengan tugas kelompok mata kuliah Membaca yang didalamnya membahas tentang kecepatan membaca dan mengukur kemampuan membaca.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan. Oleh karena itu penulis membuka diri menerima kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah ini.


Pringsewu,    Oktober 2010
Penyusun



ii
Kelompok IV

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii

I.                   PENDAHULUAN............................................................................... 1

II.                PEMBAHASAN.................................................................................. 2
A.    Kecepatan Membaca...................................................................... 2
B.     Menangkap dan Mengenali Kata.................................................... 6
C.     Membentuk Kebiasaan Membaca Efisien...................................... 10
D.    Cara Mengembangkan Kecepatan Membaca................................. 12
E.     Hal-hal yang menghambat kecepatan membaca............................. 13
F.      Mengukur kemampuan mambaca................................................... 14

III.             PENUTUP............................................................................................ 16

DAFTAR PUSTAKA
iii
 










I.                   PENDAHULUAN
Membaca adalah aktifitas yang kompleks dengan menggerakan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Meliputi orang yang harus menggunakan pengertian khayalan, mengamati dan mengingat-ingat.

Membaca juga dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mendapatkan informasi melalui sesuatu (teks atau bacaan). Oleh karena itu kegiatan membaca sangat berhubungan dengan mata dan otak (pikiran)

Kita (pembaca) tidak akan dapat membaca tanpa menggerakkan mata dan tanpa menggunakan pikiran kita. Jadi seorang pembaca harus dapat menggerakan mata dengan baik dab dapat berkonsentrasi pada saat membaca agar irformasi atau pesan dapat ditangkap dengan baik.

Dalam kegiatan membaca, pada umumnya masih banyak pembaca yang belum bisa membaca dengan baik dan belum mengetahui dengan jelas mengenai membaca cepat bahkan cara mengukur kecepatan membacanya.

Berdasarkan hal itu kami menyusun makalah ini selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah membaca tetapi juga agar pembaca mengetahui bagaimanakah seorang pembaca yang baik itu, bagaimanakah cara mengembangkan kemampuan membaca dan hal-hal apa sajakah yang dapat menghambat dalam membaca cepat serta dapat mengetahui cara mengukur kecepatan membaca.

Untuk itu di dalam makalah ini akan membahas mengenai kecepatan membaca, cara mengembangkan kecepatan membaca. Hal-hal yang menghambat kecepatan membaca dan mengukur kemampuan membaca.


II.                PEMBAHASAN
A.    Kecepatan Membaca
Banyak orang yang belum pernah mendapat bimbingan khusus dalam membaca cepat, mempunyai kecepatan yang sama dalam membaca. Kecepatan membaca pun harus fleksibela, artinya kecepatan itu tidak harus selalu sama. Adakalanya kecepatan itu diperlambat. Hal itu tergantung pada bahan dan tujuan kita membaca.

Kegiatan membaca berhubungan dengan pembaca dan bahan yang di baca. Pembaca yang baik adalah pembaca yang dapat membaca dengan cepat dan tahu maksud yang dibaca. Tetapi, biasanya banyak orang yang membacanya masih dengan pengertian yang salah.

Berdasarkan pengertian itu, seorang pembaca tidak tahu cara membaca yang baik karena, sering kali ada hal-hal yang harus kita baca tetapi sebenarnya tidak perlu menghabiskan waktu yang banyak. Jika kita tidak dapat membaca dengan cepat, maka kita hanya akan membuang-buang waktu (pemborosan waktu). Namun, banyak juga orang yang membaca terlalu cepat untuk bacaan yang seharusnya dibaca pelan-pelan. (Prof. DR. M.F.Baradja, 1990: 121).

Seorang pembaca yang baik, selain dapat membaca dengan cepat, ia juga harus tahu dimana ia harus membaca dengan cepat maupun dengan lambat. Hal itu dikarenakan, suatu bacaan atau buku memerlukan tingkat pemahaman yang berbeda saat di baca. Ada bacaan yang tingan dan ada bacaan yang berat.
(Prof. DR. M.F.Baradja, 1990: 122).

Ada sebagian orang yang dapat membaca cepat, tetapi tidak dapat ingat apa yang dibacanya, mungkin mereka ini, sudah terbiasa sejak kecil dengan membaca lambat. Ada sebagian orang lagi yang dapat membaca dengan cepat dan ingat tentang apa yang dibacanya. Orang-orang yang disebut belakangan ini dapat digolongkan dalam kelompok orang-orang yang dapat membaca dengan efisien. (Soedarjo, 1989: 29)

Para ahli membaca cepat mengemukakan bahwa membaca cepat tidak hanya memperbaiki pretasi waktu, tetapi menambah banyaknya informasi yang dapat diserap oleh pembaca. Ini kemungkinan karena, pembaca tidak lagi mempunyai kebiasaan membaca kata demi kata. (Prof. DR. M.F.Baradja, 1990: 121).

Unsur utama membaca adalah otak. Mata hanya mengantarkan gambar ke otak lalu otak, memberikan intepretasi terhadap apa yang dituju oleh mata itu. (Soedarjo, 1989: 20).

Salah satu bukti bahwa, dalam membaca fungsi otak itu lebih penting dari mata dapat dilihat pada orang yang mengalami luka hebat di otak, ternyata ia menjadi buta secara menyeluruh dan selamanya meski mata orang itu berfungsi dengan sempurna. (Soedarjo, 1989: 21).

Untuk mendapatkan informasi tidak hanya dengan membaca cepat, tetapi kita harus selalu berkonsentrasi pada saat membaca. Percuma bila kita telah membaca cepat, namun kita tidak dapat mengerti atau memahami apa yang kita baca. (Soedarjo, 1989: 50)

Semakin kita berkonsentrasi, semakin cepat pula kita menyerap idea tau informasi yang kita inginkan. Bagaimanapun ringannya, suatu bahan bacaan itu konsentrasi mutlak perlu, pikiran kita harus kebacaan itu. (Soedarjo, 1989: 50)

Kurangnya data konsentrasi pada tiap pembaca disebabkan oleh hal-hal yang berbeda. Ada orang yang memerlukan tempat yang tenang (hening) untuk dapat membaca, tetapi ada juga orang yang dapat berkonsentrasi apabila ditemani oleh suara radio. Kurangnya konsentrasi juga disebabkan oleh kurangnya minat perhatian terhadap apa yang dibaca, karena tidak menarik, terlalu sulit atau terlalu mudah atau memang membosankan. (Soedarjo, 1989: 50)

Selain itu juga, ada kemungkinnan orang itu belum siap membaca, misalnya karena badan terlalu lelah atau perasaannya masih kacau (sedih). Untuk meningkatkan daya konsentrasi, ada dua kegiatan penting yaitu menghilangkan atau menjauhi hal-hal yang menyebabkan pikiran menjadi kusut dan memusatkan perhatian secara sungguh-sungguh. (Soedarjo, 1989: 50)

Selain unsur utama,  ada juga keterampilan dasar seperti gerakan mata, membaca frase, mengenal kata-kata kunci baik untuk fiksi maupun non fiksi. (Soedarjo, 1989: 19)

Dalam kegaitan membaca, persepsi dan interpretasi otak terhadap tulisan yang dilihat oleh mata, dapat dilihat pada lamanya mata berfiksasi. Apabila persepsinya kuat (mengenai informasi yang dibacanya), fiksasi berlangsung cepat. Pembaca tidak berhenti lama di satu fiksasi, tetapi segera meloncat ke fiksasi berikutnya. (Soedarjo, 1989: 21)

Gerakan mata tergantung pada jarak benda yang dilihat. Apabila kita melihat jauh mengikuti benda yang bergerak di lapangan pandang luas, mata bergerak halus dan rata. Akan tetapi, apabila kita melihat benda-benda dijarak yang dekat seperti kalau kita melihat gambar atau membaca gerakan mata akan cepat. (Soedarjo, 1989: 28)

Mata bergerak dari satu titik fiksasi melompok ke titik fiksasi yang lain, berhenti sejenak lalu melompat ke titik fiksasi berikutnya.  Seorang pembaca yang tidak efisien, dalam satu fiksasi hanya dapat satu atau dua kata misalnya :
Mata bergerak dari satu titik fiksasi melompat ketitik fiksasi yang lain.
Sedangkan pembaca yang efisien, dapat menangkap lebih banyak kata, misalnya :
Matabergerak dari suatu titik fiksasi melompat
ketitik fiksasi yang lain.

Saya memakai baju lengan panjang
(Soedarjo, 1989: 28)

Untuk mendapatkan kecepatan dan  efisiensi membaca dapat dilakukan dengan melebarkan jangkauan mata dan lompatan mata, yaitu satu fiksasi meliputi dua atau tiga kata, kemudian dengan membaca satu fiksasi untuk suatu unit pengertian. Melalui cara ini siswa dapat lebih mudah menyerap apa yang dibacanya.

Cara selanjutnya yaitu seorang pembaca diusahakan pada saat membaca jangan menghafal kata-kata yang dibacanya, melainkan memahami maksud apa yang dibacanya. Selain dengan cara-cara diatas masih ada satu cara lagi, yaitu dengan mempercepat peralihan dari fiksasi ke fiksasi, tidak terlalu lama berhenti dalam satu fiksasi. Percepat gerak mata dari satu fiksasi ke fiksasi berikutny (Soesdarso, 1989: 29).

Semakin sedikit waktu untuk berhenti semakin baik karena si pembaca tidak membuang-buang waktu. Pada saat membaca kemampuan menyerap ide yang dilakukan oleh otak tidak bergantung pada kemampuan ingatan mengikuti susunan kata. Artinya bahwa otak kita dapat menyerap ide jauh lebih cepat dari pada mata kita melihat susunan kata itu. Jadi, kita tidak harus mengingat-ingat bagaimana susunan kata itu, tetapi yang kita ingat adalah idenya. Kemudian dengan pengertia yang kita pahami, kita merumuskan ide itu dengan kata-kata kita sendiri (Soedarso, 2989: 29).

B.     Menangkap dan mengenali kata
Dalam proses membaca, mata bertindak sebagai indra yang menangkap kata-kata dalam bahan bacaan. Kata-kata tersebut kemudian dikirim ke otak untuk dikenali sebagai sebuah kosa kata, kelompok kata, maupun pemahaman sebuah kalimat.

Ternyata otak manusia mampu memproses kata-kata dengan baik bahkan ketika urutannya dibolak-balik. Coba Anda simak teks berikut:
Kmaemuapn mbecmaa cpeat trkeiat eart dngean kmaemuapn mngelnaei ktaa. Mnuasia mngenelai breabgai ktaa lweat bkuu dan tlisaun ynag dbiacaayn. Ktaa-ktaa tbuesret dsimiapn dlaam mmorei oatk dan aakn dinalkei lbeih cpeat ktikea dtemuikan kmblaei pdaa baahn baacan ynag brau.
Libeh habet lgai tnyatera uturan ktaa tdiak tlaleru ptineng aslaakn psoisi hruuf preatma dan trekahir tdiak bruebah. Adna hnaya ckuup mngelnaei hruuf preatma dan trekahir tdai kmeduian dnegan kmemapaun laur baisa aakn mngeanilnya sbegaai sbeauh ktaa spereti ynag Adna bcaa skeranag. Ini mneuurt rsiet ynag prenah dlikaukan Uinvertisas Cmabrigde, Ingrigs.

Sekarang bandingkan dengan teks aslinya
Kemampuan membaca cepat terkait erat dengan kemampuan mengenali kata. Manusia mengenali berbagai kata lewat buku dan tulisan yang dibacanya. Kata-kata tersebut disimpan dalam memori otak dan akan dikenali lebih cepat ketika ditemukan kembali pada bahan bacaan yang baru.

Lebih hebat lagi ternyata urutan kata tidak terlalu penting asalkan posisi huruf pertama dan terakhir tidak berubah. Anda hanya cukup mengenali huruf pertama dan terakhir tadi kemudian dengan kemampuan luar biasa akan mengenalinya sebagai sebuah kata seperti yang Anda baca sekarang. Ini menurut riset yang pernah dilakukan Universitas Cambridge, Inggris.

Apa yang Anda rasakan ketika membaca kedua teks tadi? Kebanyakan orang tidak akan mengalami kesulitan berarti untuk membaca teks pertama. Mungkin kecepatannya akan lebih lambat karena teks tersebut dibolak-balik. Walaupun demikian teks tersebut masih cukup mudah dibaca dan dikenali sebagai kosa kata yang telah kita kenali sebelumnya.

Tulisan yang dibolak-balik tadi sekaligus menjadi bukti bahwa Anda mampu membacanya. Inilah prinsip yang akan kita gunakan dalam membaca cepat yakni mengenali kata demi kata dengan kecepatan tinggi sehingga Anda bisa terus berpindah ke kata berikutnya sambil membangun pemahaman dan konteks bahan bacaan.

Dalam membaca cepat kemampuan mengenali kata adalah dasar. Ketika Anda melihat sekumpulan huruf lewat mata dan mengirimkan ke otak, maka akan ada proses pengenalan terhadap kata-kata tersebut terlebih jika Anda pernah mengenal kosa kata tersebut sebelumnya. Itu mengapa orang yang rajin membaca memiliki kecepatan yang relatif lebih cepat dibandingkan orang yang jarang baca karena kekayaan kosa kata yang telah dimiliki sebelumnya. Dalam teknik membaca cepat, kita akan melatih kecepatan mengenali berbagai kosa kata tersebut.

Berikut latihan yang dapat Anda lakukan. Coba lihat tulisan pada kolom pertama (paling kiri) kemudian temukan kata yang sama pada 4 kolom berikutnya. Lakukan proses ini dengan cepat dan sekali lirik. Semakin cepat dan akurat Anda mengenalinya berarti semakin cepat pula kemampuan asosiasi Anda terhadap kata-kata tersebut.
1.      Latihan mengenali kata

Lakukan latihan tersebut dengan cepat. Rasakan mata Anda berpindah cepat dari kolom acuan ke kolom yang harus ditemukan.

2.      Latihan mengenali kelompok kata
Latihan kedua adalah mengenali kelompok kata (frasa). Anda telah mengenal kata-kata ini sebelumnya. Sama seperti latihan sebelumnya lakukan dengan cepat untuk menemukan frasa yang sama pada kolom pertama di ketiga kolom lainnya.
Latihlah kedua hal di atas sampai Anda dapat mengenali dengan cepat sebuah kata dan kelompok kata (frasa). Dengan demikian, ketika proses membaca cepat dilakukan, pengenalan kata tidak tertinggal. Ibarat seorang pembalap, meskipun berkendara dengan kecepatan tinggi, Anda tetap awas atas apa-apa yang ada di depan, kiri dan kanan. 

C.    Tujuan Membaca Cepat
Tujuan awal diadakannya pengajran membaca cepat kepada anak atau siswa adalah agar anak atau siswa itu dapat membaca secara efektif dan efisien yaitu, mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang relatif singkat. Dalam hal ini, yang dipentingkan bukanlah masalah kecepatan siswa dalam membaca, melainkan tingkat pemahaman isi bacaan setelah dibaca oleh siswa secara cepat . percuma apabila anak atau siswa dapat membaca dengan cepat tetapi tidak dapat memahami isinya (DR. Henry Guntur Tarigan, 1994: 27)

Menyesuaikan kecepatan membaca dengan jenis pemahaman yang hendak dicapai merupakan masalah yang penting, karena berkaitan dengan keterampilan membaca dan keterampilan studi.
(DR. Henry Guntur Tarigan, 1994: 27)

Keterampilan membaca yaitu bagaimana cara seorang anak atau siswa dalam membaca suatu bacaan. Tentunya, hal itu sangat berhubungan dengan tujuan membac yaitu membaca untuk studi, membaca untuk kesenangan dan membaca untuk usaha. Berdasarkan tujuan membaca tersebut maka si pembaca (siswa) akan berpengaruh pada fleksibelitas membaca (Dalman, 2009: 7).

Sedangkan keterampilan studi berhubungan dengan bahan bacaan yang akan dibava. Apakah bahan bacaan itu masuk pada tujuan membaca studi, membaca untuk kesenangan ataupun untuk usaha. Dalam hal ini, seorang guru hendaknya mengajarkan sipembaca untuk dapat menentukan bahan bacaan mana yang akan dibaca, tentunya yang berhubungan informasi yang dicari oleh siswa atau berhubungan informasi yang dicari oleh siswa atau pembaca (Dr. Henry Guntur Tarigan, 1994: 27).

D.    Membentuk Kebiasaan Membaca Efisien
Membentuk kebiasaan membaca yang efisien memakan waktu yang relative lama, oleh karena itu, usaha-usaha pembentukan hendaklah di mulai sedini mungkin dalam kehidupan, yaitu sejak masa kanak-kanan. Pada masa anak-anak, usaha pembentukan dalam arti peletakan fundasi minat yang baik dapat dimulai sejak kira-kira umur dua tahun, yaitu sesudah anak mulai dapat mempergunakan bahasa lisan (memahami yang dikatakan dan berbicara), walaupun masih pada taraf bahasa yang jauh dari sempurna, menurut ukuran dewasa (DP: Tampubolon, 1990: 228).

Usaha yang dapat dilakukan pada taraf permulaan ini ialah merangsang daya visual dan motorik anak untuk sekadar mengenali buku. Angota-anggota keluarga yang sering dilihat oleh anak membaca atau memegang buku dirumah, termasuk hal yang baik untuk membiasakan giat membaca atau memotivasi untuk mau membaca (DP: Tampubolon, 1990: 228)

Pada usia 2,5 tahun sampai 3 tahun akan baik sekali pengaruhnya, jika kepada anak diberikan buku-buku bergambar, apalagi jika anak itu didorong untuk membuka buku-buku itu dan melihat gambar-gambar yang ada di dalamnya serta menyebut nama gambar-gambar itu. Dengan cara ini, secara tidak langsung kita dapat merangsang perkembangan otak pada anak. Pada usia 3-4 tahun, anak sudah mulai belajar mengeli tulisan. Setelah anak mulai sekolah dan dapat membaca permulaan (huruf, kata dan kalimat), seorang anak perlu dirangsang untuk membuka dan membaca buku-buku yang sesuai dengan yang dipelajarinya di sekolah.

Pada usia 4-5 tahun, anak sudah mulai bisa membaca secara perlahan-lahan, pada usia ini hendaknya orang tua dapat merangsang anak dengan cara menyediakan buku-buku bacaan anak-anak dirumah dan diberikan untuk latihan membaca. Bercerita kepada anak-anak sebelum tidur juga dapat menambah minat membaca anak (DP. Tampubolon, 1990: 29).

Setelah anak dapat membaca secara lancer, dia dapat diminta untuk membacakan buku cerita yang disukainya. Pada waktu anak sudah dapat membaca, hendaknya cara-cara atau teknik yang digunakan anak dalam membaca perlu diperhatikan, sehingga cara-cara yang tidak baik (tidak efisien) tidak berkemang menjadi kebiasaan.

Pada usia ini, memang anak-anak suka membaca bersuara. Ini tidak salah, karena perlu untuk memantapkan daya pengenalannya akan huruf-huruf. Tetapi, perlu mulai diingatkan kepada anak-anak bahwa, membaca dalam hati juga perlu, dan anak itu perlu ditunjuki tentang cara melakukannya. (DP. Tampubolon, 1990: 229).

Usaha-usaha seperti diatas adalah usaha yang dapat dilakukan dalam rangka pembentukan kebiasaan membaca dalam hal ini terutama peletakan fundasi minat yang baik dari diri anak. Jika minat yang baik itu telah terbentuk, maka fundasi kuat untuk membentuk kebiasaan membaca efisien telah ada dan anak semakin berusaha untuk mengembangkannya. Setelah minat yang baik berkembang, dengan sedikit bimbingan tentang teknik-teknik membaca efisien, maka anak itu akan memiliki kebiasaan membaca yang efisien (DP. Tampubolol, 1009: 229)

Sedangkan pembentukan kebiasaan membaca efisien pada usia dewasa jauh lebih sukar daripada pembentukan pada saat masih anak-anak. Tetapi bukan tidak mungkin, karena pada usia dewasa yang perlu dikembangkan adalah minat membaca dan pembelajaran mengenai teknik-teknik membaca yang baik. Pada usia dewasa, pengembangan minat dapat dilakukan dengan disiplin diri. Dapat dimulai dengan membaca bacaan yang mudah dan menarik setiap hari. Misalnya setengah jam. Kemudian, waktu membaca tersebut semakin ditingkatkan, bahan-bahan bacaan dapat diganti dengan bahan-bhan fiksi seperti novel, cerpen ataupun non fiksi seperti karya ilmiah, skripsi, bipgrafi dan lain-lain (DP. Tampubolol, 1990: 230)

E.     Cara Mengembangkan Kecepatan Membaca
Ada berbagai cara untuk mengembangkan kecepatan membaca, antara lain adalah dengan membiasakan diri untuk membaca pada kelompok-kelompok kata, yang artinya bahwa, kita harus berusaha untuk menghindari membaca kata demi kata. Karena hal tersebut akan memperlambat kita dalam membaca suatu bacaan. Kalau kita sudah terbiasa untuk membaca pada kelompok-kelompok kata, maka waktu yang kita gunakan untuk mencari suatu informasinya akan lebih singkat. (Dalman, 2009: 27)

Selain itu, kita juga hangan sampai mengulang-ulang kalimat yang telah dibaca, karena selain memperlambat kita dalam membaca, juga akan membuat kita menjadi bingung yang akhirnya hanya akan membuat kita terpaku pada kalimat yang itu-itu saja.
(Dalman, 2009: 27)
Dalam kegiatan membaca, kita tidak boleh berhenti lama di awal baris atau kalimat. Berhenti agak lama diakhir-akhir bab atau sub bab, atau bila ada judul baru. Jika kita selalu berhenti lama di awal baris atau kalimat, maka hal tersebut akan memperlambat kita dalam memperoleh informasi. (Dalman, 2009: 27)

Selanjutnya, ketika kita membaca suatu bacaan, sebaiknya kita cari kata-kata kunci yang menjadi tanda awal dari adanya gagasan utama sebuah kalimat atau paragraph. Kalau kita sudah tahu kata-kata kuncinya, maka kita akan semakin mudah dalam menentukan ide pokok dari suatu bacaan atau paragraf. (Dalman, 2009: 28)

Yang berikutnya adalah kita sebaiknya mengabaikan kata-kata tugas yang sifatnya berulang-ulang, misalnya kata-kata seperti : yang, dari, pada dan sebagainya. Dalam suatu bacaan pasti banyak kata-kata tersebut, jadi kalau kita membacanya berulang-ulang kali itu hanya akan memperlambat kita dalam membaca. (Dalman, 2009: 28)

Selain yang sudah disebutkan masih ada satu lagi cara dalam mengembangkan kecepatan membaca yaitu, jika dalam penulisan bacaan itu dalam bentuk kolom-kolom kecil (seperti surat kabar), arah gerak mata kita ke bawah bukan kesamping secara horizontal tetapi kebawah (vertikal), arahkan pandangan bola mata itu kebawah lurus. Dengan mata yang bergerak kebawah maka kita akan lebih cepat menyelesaikan bacaan dan lebih cepat dalam memahami isinya (Dalman, 2009 : 28).

F.     Hal-hal yang menghambat kecepatan membaca
Dalam kegiatan membaca ada hal-hal yang dapat menghambat seorang pembaca dalam membaca cepat, seperti vokalisasi (membaca dengan bersuara) maksudnya ialah seorang pembaca dalam membaca teks atau bacaan itu dengan mengeluarkan suatu atau bunyi-bunyi bahasa dari alat ucapannya sehingga nantinya akan mengganggu kosentrasi si pembaca itu sendiri. (Soedarjo, 1989: 28)

Selain itu, ada juga yaitu gerakan bibir. Gerakan bibir dapat menghambat karena apabila kita sedang membaca dan bibir kita ikut bergerak maka akan lebih sering terjadi regresi (kembali kebelakang), sebab ketika mata dapat dengan cepat bergerak maju, suata kita masih dibelakang. (Soedarjo, 1989: 5)

Selanjutnya. yaitu membaca dengan menunjuk jari. Hal ini dapat menghambat kecepatan membaca, karena gerakan tangan lebih lambat dari pada gerakan mata. (Soedarjo, 1989: 6)

Selain 3 hal yang ada diatas, ada hal lain yang dapat menghambat dalam membaca cepat, seperti konsentrasi akan terpecah dengan hal-hal diluar bacaan misalnya, pada saat kita sedang membaca kita tanpa sengaja mendengar orang lain berbicara keras, berisik bahkan bersenandung atau bernyanyi, konsentrasi membaca dan memahami teks bavaan itu akan terganggu. Bahkan terkadang, ada yang sampai mengulang beberapa kali, tapi tidak dapat mengerti apa yang sedang di baca (Dalman, 2009 : 28)

G.    Mengukur kemampuan mambaca
Seorang pembaca dikatakan sebagai pembaca yang baik bila mampu mengatur irama kecepatan membaca sesuai dengan tujuan, kebutuhan dan keadaan bahan yang dibacam serta dapat menjawab sekurang-kurangnya 60% dari bahan yang dibaca.
(J. Adler dan Charles, 1990: 25)

Untuk tingkat pemula, kecepatan membaca diharapkan dapat mencapai 120-150 KPM (kata per menit). Kecepatan itu diupayakan terus meningkat seiring dengan latihan membaca cepat yang dilakukan secara terus menerus. (J. Adler dan Charles, 1990: 25)

Kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi, maka dalam mengukur kemampuan membaca yang perlu diperhatikan adalah  dua aspek tersebut. (Dalman, 2009: 30)


Pada umumnya kecepatan membaca diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut :


Contoh:
Andi kata yang anda membaca 1.600 kata dalam 3 menit dan 20 detik. Berapakah kecepatan membaca anda?
Jawab :


Jadi kecepatan membaca anda adalah 480 KPM.
(Soedarso, 1989: 14)




III.             PENUTUP
Berdasarkan makalah yang telah kami buat kami dapat menyimpulkan bahwa membaca cepat adalah membaca dengan menggunakan cara atau teknik tersendiri agar mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dengan cepat.

Cepat atau tidaknya informasi atau pesan yang ditangkap tergantung pada tingkat pemahaman si pembaca. Seorang pembaca dituntut untuk dapat berkonsentrasi dengan baik agar pada saat kegiatan membaca berlangsung si pembaca dapat memahami isi bacaan dengan baik tanpa harus membuang-buang banyak waktu.

Membaca cepat mempunyai dampak positif terhadap pembaca seperti dengan membaca cepat seorang pembaca dapat menyelesaikan suatu bacaan (teks) dengan cepat sehingga waktu yang digunakan pun lebih singkat. Seorang pembaca akan lebih cepat mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.

Selain dampak positif ada juga dampak negatifnya yaitu misalnya bagi seorang pembaca yang tidak terbiasa membaca cepat maka ia akan sulit memahami maksud bacaan yang dibaca.

Cepat tidaknya seseorang dalam membaca juga bergantung pada jenis bacaan. Apabila bacaan itu ringan maka seorang pembaca dapat membaca dengan cepat tetapi sebaliknya apabila bacaan itu berat maka seorang pembaca tidak perlu membaca secara cepat, karena biasanya bacaan berat itu memerlukan konsentrasi yang tinggi agar dapat memahami maksudnya.


DAFTAR PUSTAKA

Adler, Mortimer dan Ban Doren Charles. 1986. Cara Membaca Buku dan
Memahaminya. Jakarta : PT. Pantja Simpati

Soedarso. 1989. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta : PT. Gramedia

Baradja, M. F. 1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang : IKIP Malang

Dalman. 2009. Membaca. Bandar Lampung: