Friday, June 22, 2012

TINDAK TUTUR LOKUSI, ILOKUSI DAN PERLOKUSI

A. Latar Belakang Masalah


               Dalam kehidupan di masyarakat manusia selalu melakukan interaksi atau hubungan dengan sesamanya adalah bahasa. Bahasa dan manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dalam arti keduanya berhubungan erat. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling penting bagi manusia karena dengan bahasa manusia dapat mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran atau gagasannya. Agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik, manusia harus menguasai keterampilan berbahasa. Tarigan (1986 : 2) menyatakan bahwa keterampilan berbahasa meliputi empat macam, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan bahasa mempunyai hubungan yang erat dan konsep berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikiran, semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula pikirannya. Kridalaksana (1984 : 28) berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang arbiter yangdigunakan untuk bekerja sama, berinteraksi, atau mengidentifikasikan diri. Meningkatkan bahasa sebagai lambang makna dalam bahasa lisan lambang itu diwujudkan dalam bentuk tindak ujar dan dalam bahasa tulis wujud simbol tulisan dan keduanya memiliki tempat masing – masing. Baik bahasa lisan maupun tulisan digunakan manusia untuk berkomunikasi. Komunikasi secara langsung, misalnya ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Sedang yang melalui media, contoh iklan di televisi, siaran di radio, penulisan opini atau artikel di majalah, surat kabar, dan lain – lain. Bahasa lisan, khususnya yang berupa tindak ujar atau tindak tutur dapat menimbulkan efek bagi penutur bahasa. Efek yang ditimbulkan oleh bahasa terhadap penutur adalah suatu tindakan tertentu sebagai umpan balik. Umpan balik memainkan peranan yang sangat kecil sebab ia menentukan berlanjutnya komunikasi atau berhentinya komunikasi. Iklan merupakan berita pesanan untuk mendorong, membujuk kepada khalayak ramai tentang benda atau jasa yang ditawarkan atau pemberitahuan kepada khalayak ramai mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di media massa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999 : 322). Kajian pragmatik tentang tindak tutur sangat menarik untuk dilakukan, khususnya tindak tutur dalam naskah iklan radio banyak ditemukan seperti tindak tutur lokusi, ilokusi, perlokusi, dan banyak juga ditemukan banyak tuturan berita, tanya, dan perintah. Bahasa yang digunakan dalam naskah iklan radio dibuat menarik agar menimbulkan daya pengaruh bagi pendengar. Kesan itulah yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji pemakaian bahasa pada iklan radio dengan judul.

  “TINDAK TUTUR LOKUSI, ILOKUSIDAN PERLOKUSI 
DALAM WACANA IKLAN BERBAHASA INDONESIA
Di RADIO GAJAH MADA 102,4 FM SEMARANG”

                Adapun radio Gajah Mada 102.4 FM Semarang yang dijadikan objek penelitian iklan karena di semarang radio tersebut merupakan radio swasta terbaik, jangkauannya luas, pendengarnya pun cukup banyak sehingga mengundang minat banyak pemasang iklan dalam rangka mengenalkan produk – produknya. Dengan banyaknya pemasangan iklan berarti bagi peneliti mempunyai banyak pilihan iklan – iklan yang akan dijadikan bahan penelitian. B. Perumusan Masalah Dari uraian dalam latar belakang masalah, dapatlah dirumuskan masalah penelitian yaitu : 1. Bagaimana tindak tutur dalam wacana iklan radio gajah mada 102.4 FM Semarang? 2. Bagaimana cara penyampian iklan yang terdapat dalam wacana iklan radio gajah mada 102.4 FM Semarang? C. Pembahasan Kridalaksana (1993 : 21) mengungkapkan batasan dalam kamus linguistik, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Definisi ini serupa dengan yang ada dalam Keei (1995 : 66) yang mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang bersifat sewenang – wenang dan konvensional dan dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Fungsi Bahasa Nababan (1993 : 38) menyatakan bahwa fungsi paling dasar dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi, yaitu alat pergaulan dan perhubungan sesama manusia. Peristiwa komunikasi terjadi apabila penutur bebicara kepada mitra tutur dengan mengungkapkan bahasa yang saling dimengerti studi pragmatik berkaitan dengan penggunaan bahasa. Suyono (1990 : 18) menyatakan tiga konsep dasar yang dikaji yaitu : 1. Tindak komunikatif sebagai wujud aktualisasi penggunaan bahasa. Dengan tindak komunikasi ini ada beberapa tindak bahasa yaitu menyela, mengundang, menyuruh, mengharapkan, meminta, dan sebagainya. 2. Peristiwa komunikatif yaitu satu unit perisitwa bahasa yang mempunyai keseragaman, keutuhan, dan kesatuan atas seperangkat komponen komunikatif. Situasi komunikatif yaitu konteks yang melingkupi terjadinya peristiwa komunikatif atau konteks dalam peristiwa komunikasi terjadi. Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa yang memiliki berbagi cabang. Cabang – cabang itu diantaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Keempat cabang linguistik yang pertama mempelajari struktur bahasa secara internal, sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana kesatuan bahasa itu digunakan (Wijana, 1996 : 1). Yang dimaksud dengan peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur dengan satu pokok tuturan di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999 : 1058), langkah atau perbuatan, sedangkan tutur diartikan ucapan, kata, perkataan (1999 : 1090). Dari dua pengertian tersebut tindak tutur dapat diartikan sebagai perbuatan memproduksi tuturan atau ucapan. Oleh Tarigan dijelaskan (1986 : 36) bahwa tindak tutur atau tuturanyang dihasilkan oleh manusia dapat berupa ucapan. Ucapan dianggap suatu bentuk kegiatan atau suatu tindak ujar. Pada tahun 1962 dalam bukunya yang berjudul How to Do Thinks with Word, Austin telah membedakan tiga jenis tindak ujar, yaitu : 1. Tindak tutur lokusi Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami. Tindak tutur ini juga bersifat informasi dan tidak menuntut partisopan melakukan tindakan. 2. Tindak tutur lokusi Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. 3. Tindak tutur perlokusi Tuturan yang diucapkan seorang penutur sering memiliki efek atau daya pengaruh (perlocutinary force). Efek yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah yang oleh Austin (1962 : 101) dinamakan tindak perlokusi. Bentuk tuturan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu berita (deklaratif), tanya (interogatif), dan perintah imperatif). 1. Berita (deklaratif) Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain. 2. Tanya (interogatif) Berdasarkan fungsinya, kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan. 3. Perintah (imperatif) Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat ini mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari lawan bicara. Data dalam penelitian ini adalah tuturan yang dinyatakan dalam sejumlah naskah iklan radio. Subroto (1992 : 34), sumber data adalah semua informasi atau bahan yang diserahkan oleh alam (dalam arti luas) yang harus dicari atau dikumpulkan dan dipilah oleh peneliti. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah sejumlah naskah iklan yang disiarkan melalui media radio. Data dalam penelitian ini, penelitian ini mengambil lima belas naskah iklan yang disiarkan oleh radio gajah mada 102.4 FM yang diduga memiliki aspek tindak tutur dan bentuk tuturan. Menurut Subroto (1992 : 23) istilah metode penelitian linguistik dapat ditafsirkan sebagai sebuah strategi kerja berdasarkan kerangka berpikir tertentu. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode diartikan sebagai kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam penulisan proposal ini, penulis menggunakan penelitian kualitatif. Moelong (1993 : 3) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang menghasilkan data berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang diamati. Artinya wujud data dalam bahasa adalah kata, kalimat, dan wacana. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam suatu penelitian sangat penting. Data yang terkumpul selanjutnya akan digunakan untuk analisis agar penelitian dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekam, simak dan catat. Teknik pengumpulan data sebagai berikut: Pertama, data yang diambil dengan menggunakan teknik simak yaitu mengadakan penyimakan terhadap data yang relevan, yang sesuai dengan tujuan penelitian (Subroto, 1992 : 41 – 42). Dengan teknik ini dilakukan penyimakan pada tindak tutur dan bentuk tuturan yang terdapat dalam sejumlah naskah iklan radio. Kedua, setelah dilakukan penyimakan kemudian diteruskan dengan pencatatan terhadap data yang relevan dan yang sesuai dengan tujuan penelitian (Subroto, 1992 : 41 – 42) sehingga dapat diketahui klasifikasi data menurut bentuk, fungsi. Teknik analisis data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan. Metode padan adalah alat penentunya dari luar telepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:13). Analisis dalam penelitian ini adalah analisis non statistik yaitu analisis yang tidak menggunakan rumusan statistik. Analisis yang dilakukan berdasarkan teori-teori yang ada. Penyajian Hasil Analisis Penyajian hasil analisis dalam penelitian ini penulis menggunakan metode informasi menurut Sudaryanto (1993 : 143), metode informasi adalah perumusan dalam kata – kata biasa walaupun dengan sifatnya yang teknis. Berdasarkan tuturan-tuturan tokoh iklan dalam wacana di radio, tindak tutur dalam penelitian ini dianalisis berdasarkan cara penyampaianya adalah 1. Dengan Pernyataan 2. Dengan Kealatan 3. Dengan Pemasaran 4. Dengan Peyakinan 5. Dengan Kenal Pasti 6. Dengan Perbandingan 8. Dengan Pertanyaan 9. Dengan Peringatan 10. Dengan Suruhan 11. Dengan Ajakan 13. Dengan Nasehat 14. Dengan Gabungan. Berkaitan dengan hal tersebut, tuturan di atas dapat menimbulkan efek psikologi yang berbeda-beda pada diri pemirsa. Berikut ini analisis wujud tindak tutur wacana iklan dan efek psikologi yang dirasakan oleh pemirsa. Tindak tutur dengan indikator menyuruh Tindak tutur dengan indikator menyuruh yaitu tindak tutur yang dilakukan oleh penuturnya dengan maksud agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan yang berisi tuturan menyuruh. Tuturan ini merupakan tuturan yang memerintah agar seseorang melakukan sesuatu. Iklan fatigon Konteks : 
(SEORANG KARYAWATI TERLAMBAT DATANG KEKANTOR)
Karyawati : sorry, kemarin aku sibuk, kerjaan menumpuk, badan capek, pegal-pegal, otot kaku-kaku.” Karyawan : minum fatigon pagi dan sore biar kerjaan tuntas, bangun tidur badan enak.” Tuturan yang diucapkan oleh seorang karyawan yang dianjurkan kepada karyawati yang terlambat kekantor adalah tuturan. “minum fatigon pagi dan sore.” Seorang karyawan menganjurkan karyawati untuk mengkonsumsi fatigon untuk memulihkan stamina yang hilang dan badan terasa bugar kembali. Ciri konteks yang melekat pada tuturan tersebut disampaikan dengan nada rendah dan tekanan jatuh pada kata minum. Bagi karyawati. Tuturan tersebut memberi efek pada dirinya untuk mengkonsumsi fatigon seperti yang dianjurkan kartawan. Tindak tutur dengan indikator mengajak Tindak tutur dengan indikator mengajak adalah tindak tutur yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar penutur melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan mengajak. Tuturan tersebut merupakan tuturan yang dilakukan untuk meminta supaya turut/membangkitkan hati supaya melakukan sesuatu.

Iklan promag Konteks : (SEORANG LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MENGINFORMASIKAN SESUATU) 
Laki-laki : “ sibuk jangan lupa makan” “ makan teratur itu perlu, begitu merasa sakit mag , minumlah promag setiap sebelum atau sesudah makan dan sebelum tidur. Tugas jadi tak terganggu kalau mual, perih, kembung promag obatnya.” Tuturan “begitu merasa sakit mag , minumlah promag setiap sebelum atau sesudah makan dan sebelum tidur.” Dengan maksud untuk mengajak pemirsa jika sakit mag minulah promag setiap sebelum atau sesudah makan dan sebelum tidur diimbangi makan yang teratur karena dalam iklan tersebut tidak terdapat percakapan antara tokoh iklan sehingga sasarannya pemirsah.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. 2009. Proposal Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rekaan Citra Depdikbud. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka Halliday, M. A. K dan Ruqaiyah Hasan. 1994. Bahasa Konteks dan Teks. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Jefkin, Frank. 1995. Periklanan. Jakarta : Erlangga Kaswanti Purwa, Bambang. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa Menyimak kurikulum 1994. Yogyakarta : Kanisius Lec Monlee dan Carla Johnson. 2007. Prinsip – prinsip Pokok Periklanan Dalam Perspektif Global. Jakarta : Kencana Leech, G. D. 1993. Prinsip – prinsip Pragmatik (terjemahan). Jakarta : Universitas Indonesia Meolong, Lexi GJ. 1993. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Posdakarya Subroto, Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitian. Surakarta : Sebelas Maret University Press Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Analisis Bahasa. Yogyakarta : Duta Wacana Press Tarrigan, Henri Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung : Angkara 

TINDAK TUTUR LOKUSI, ILOKUSI DAN PERLOKUSI
DALAM WACANA IKLAN BERBAHASA INDONESIA
DI RADIO GAJAH MADA 102.4 FM
SEMARANG       

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas remidi matakuliahseminar bahasa yang 
di ampu oleh : Dra.Ngatmini, M.Pd 

Disusun Oleh:
Nama :ghamblang
NPM : 07410632


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
  FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
IKIP PGRI SEMARANG
2010/2011