Tuesday, June 19, 2012

devinisi dan pengertian menulis


                                                Definisi dan Pengertian Menulis

Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan, misalnya memberi tahu, meyakinkan, atau menghibur. Hasil dariproses kreatif ini biasa disebut dengan istilah karangan atau tulisan. Kedua istilah tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda.

Istilah menulis sering melekatkan pada proses kreatif yang berjenis ilmiah.  Sementara istilah mengarang sering dilekatkan pada proses kreatif yang berjenis nonilmiah.

Menulis dan mengarang sebenarnya dua kegiatan yang sama karena menulis berarti mengarang (baca: menyusun atau marangkai bukan menghayal) kata menjadi kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf, menyusun paragraf menjadi  tulisan kompleks yang mengusung pokok persoalan.

Pokok persoalan di dalam tulisan disebut gagasan atau pikiran. Gagasan tersebut menjadi dasar bagi berkembangnya tulisan tersebut. Gagasan pada sebuah tulisan bisa bermacam-macam, bergantung pada keinginan penulis penulis. Melalui tulisannya, penulis bisa mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, pendapat, kehendak dan pengalaman.

Menulis sebagai keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan  gagasan-pikirannya kepada orang atau pihak lain dengan dengan media tulisan. Setiap penulis pasti memiliki tujuan dengan tulisannya antara lain mengajak, menginformasikan, meyakinkan, atau menghibu pembaca.

Referensi: Buku “Penuntun Perkuliahan Bahasa Indonesia” Karangan Daeng Nurjamal, S.Pd dan Warta Sumirat, M.Pd halaman 68.

Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Dalam komunikasi tulis terdapat empat unsur yang terlibat yaitu : (1) Penulis sebagai penyampai pesan, (2) Pesan atau isi tulisan, (3) Saluran atau media berupa tulisan, dan (4) Pembaca sebagai penerima pesan.
Menulis memiliki banyak manfaat yang dapat dipetik dalam kehidupan ini diantaranya adalah :
1. peningkatan kecerdasan,
2. pengembangan daya inisiatif dan kreatifitas,
3. penumbuhan keberanian, dan
4. pendorongan kemauan dan kemampuan mengumpulkan informasi.
Menurut Graves (1978), seseorang enggan menulis karena tidak tahu untuk apa dia menulis, merasa tidak berbakat menulis, dan merasa tidak tahu bagaimana harus menulis.
Smith (1981) mengatakan bahwa pengalaman belajar menulis yang dialami siswa di sekolah tidak terlepas dari kondisi gurunya sendiri. Umumnya guru tidak dipersiapkan untuk terampil menulis dan mengajarkannya. Karena itu, untuk menutupi keadaan yang sesuangguhnya muncullah berbagai mitos atau pendapat yang keliru tentang menulis dan pembelajarannya. Diantara mitos tersebut adalah :

1. Menulis itu mudah
Teori menulis atau mengarang, memang mudah. Gampang dihafal. Tetapi, menulis atau mengarang bukanlah sekedar teori, melainkan keterampilan. Bahkan, ada seni atau art di dalamnya. Teori hanyalah alat untuk mempercepat pemilikan kemampuan seseorang dalam mengarang. Seseorang tanpa dilibatkan langsung dalam kegiatan dan latihan menulis, tidak akan pernah mampu menulis dengan baik.

2. Kemampuan menggunakan unsur mekanik tulisan inti dari menulis
Seseorang perlu memiliki keterampilan mekanik seperti penggunaan ejaan, pemilihann kata, pengkalimatan, pengalineaan, dan pewacanaan dalam mengarang. Namuan, kemampuan mekanik saja tidak cukup, karangan harus mengandung ide, gagasan, perasaan, atau informasi yang akan diungkapkan penulis kepada orang lain.

3. Menulis itu harus sekali jadi
Tidak banyak orang yang dapat menulis sekali jadi. Bahkan, penulis profesional sekalipun. Menulis merupakan sebuah proses. Proses yang melibatkan tahap prapenulisan, penulisan, serta penyuntingan, perbaikan, dan penyempurnaan.

4. Orang yang tidak menyukai dan tidak pernah menulis dapat mengajarkan menulis
Seseorang yang tidak menyukai dan tidak pernah menulis tidak akan mungkin dapat mengajarkan seseorang menulis. Seseorang yang akan mengajarkan menulis harus dapat menunjukkan kepada muridnya manfaat dan nikmatnya menulis. Dia pun harus dapat mendemonstrasikan apa dan bagaimana mengarang.


Hubungan Menulis dengan Keterampilan Berbahasa yang lain

1. Hubungan Menulis dengan Membaca
Membaca dan menulis merupakan suatu kegiatan yang menjadikan penulis sebagai pembaca dan pembca sebagai penulis. Seseorang akan mempu menulis setelah membaca karya orang lain atau secara tidak langsung akan membaca karangannya sendiri. Ketika seseorang membaca karangan orang lain ia akan berperan juga seperti penulis, ia akan menemukan topik dan tujuan, gagasan, serta mengorganisasikan bacaan dari karangan yang dibaca.

2. Hubungan Menulis dengan Menyimak
Seseorang akan dapat menulis setelah mendapat inspirasi, ide, gagasan dengan menyimak dari berbagai sumber tak tercetak seperti radio, televisi, ceramah, pidato, wawancara, diskusi, dan obrolan.

3. Hubungan Menulis dengan Berbicara
Menulis dan berbicara keduanya merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat aktif produktif, artinya penulis dan pembicara berperan sebagai penyampai atau pengirim pesan kepada pihak lain. Pesan yang disampaikan melalui media tulisan dapat diperoleh dari hasil berbicara. Dan sebaliknya seseorang berbicara dapat mengambil konsep atau informasi dari hasil tulisan sendiri atau orang lain.

Menulis sebagai Proses
Dalam pembelajaran menulis terdapat beberapa pendekatan yang sering digunakan antara lain :
1. Pendekatan frekuensi menyatakan bahwa banyaknya latihan mengarang akan membantu meningkatkan keterampilan menulis seseorang
2. Pendekatan gramatikal menyatakan bahwa pengetahuan seseorang mengenai struktur bahasa akan mempercepat kemahiran dalam menulis
3. Pendekatan koreksi menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi penulis yang baik apabila banyak mendapat masukan dari orang lain.
4. Pendekatan formal menyatakan bahwa keterampilan menulis akan diperoleh bila pengetahuan bahasa, pengalineaan, pewacanaan serta aturan menulis dikuasai dengan baik.

Menulis dikatakan sebagai proses karena menulis merupakan serangkaian aktivitas yang terjadi dan melibatkan tahap-tahap yaitu :
1. Tahap Prapenulisan merupakan fase persiapan menulisseperti menentukan topik dan tujuan karangan, mengumpulkan informasi serta membuat kerangka karangan.
2. Penulisan merupakan tahapa untuk mengembangkan ide atau informasi yang diperoleh pada tahap prapenulisan
3. Pascapenulisan merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram yang kita hasilkan


PENALARAN
Penalaran adalah suatu proses berpikir yang sistematis dan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Secara umum penalaran dapat dibedakan menjadi dua yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif.
Penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari hal-hal yang khusus menuju ke hal yang umum, maksudnya suatu proses yang dimulai dengan kalimat-kalimat penjeklas yang kemudian sampai pada sebuah kesimpulan yang sekaligus merupakan pikiran utama dari penjelasan-penjelasan tersebut.
Penalaran deduktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari suatu yang umum menuju hal-hal yang khusus artinya dimulai dari pokok-pikiran utama kemudian dilanjutkan oleh kalimat-kalimat penjelas.
Penalaran deduktif menggunakan silogisme dan entimen sebagai alat penalarannya, sedangkan penalaran induktif menggunakan generalisasi, analogi dan hubungan kausal.
Dalam penalaran ada yang disebut salah nalar. Salah nalar artinya kekeliruan atau ketiadahubungan antara peristiwa, kasus atau alasan dengan kesimpulannya. Hal ini disebabkan karena kekurangcermatan, kecerobohan, ketidaktahuan atau sikap emosional. Dengan demikian salah nalar disebabkan oleh generalisasi yang terlalu luas, kerancuan analogi, kesalahan kausalitas, kesalahan relevansi dan kesalahan karena menyadarkan pendapat ataua alasan mengenai suatu masalah terhadap seorang tokoh di luar keahliannya.
5 Proses Menulis Konten Blog
Menulis konten blog bisa dibilang susah-susah gampang. Semuanya harus dimulai dengan kemauan dan semangat yang kuat. Jika sudah bagi anda yang sudah terbiasa menulis tentu sudah tak menjadi masalah lagi ketika ingin menulis konten blog anda. Tetapi bagi yang nubie atau yang baru-baru mulai ingin menulis konten blog dan masih sedikit canggung untuk memulainya, simak beberapa proses menulis konten blog untuk memudahkan anda menulis dengan mudah.
Sebelumnya anda juga bisa membuka kembali laman tulisan Bloggingly tentang 18 Referensi & Resource “Tips Cara Menulis Blog” dari Sentaero Blogosphere untuk memperkaya trik-trik menulis konten blog anda.

1. Persiapan
Biasanya tahap inilah yang paling vital dan menjadi masalah beberapa orang yang baru ingin memulai membuat tulisan blognya. Hmm.. mau nulis apa ya? Walau sekalipun blog anda sudah mempunyai niche yang unik http://bloggingly.com/5-keuntungan-membangun-niche-blog/ tetapi kadang-kadang tanpa persiapan yang matang pastilah kesulitan memulai menulis pun akan terjadi.
Kumpulkan ide dan inspirasi
Jika anda sudah memeiliki jenis niche blog tentu akan sedikit terbantu untuk mencari ide dan inspirasi konten yang akan anda buat. Tapi jika belum, maka gunakanlah kreatifitas otak anda untuk mencari ide dan inspirasi menulis konten anda. Tidak perlu bingung memilih ide apa karena sebenarnya ide itu tersebar dimana-mana. Tinggal anda yang harus cerdas memilihnya menjadi sumber inspirasi konten anda.
Brainstorming
Menurut saya ini akan sangat membantu anda mengembangkan ide tulisan konten blog anda. Meskipun terkesan berlebihan dan terlalu ribet, tetapi setidaknya bisa anda kembangkan poin-poin ide anda menjadi pembangun kerangka tulisannya.
Kerangka
Masih ingat pelajaran menulis karangan di masa sekolah, kalau saya tidak salah biasanya yang duluan diperintahkan oleh guru bahasa Indonesia adalah membuat kerangka karangannya dahulu sebelum memulai tulisan (walaupun jarang saya lakukan dulu ). Nah dari ide-ide yang terjabarkan menjadi poin-poin yang cukup melalui brainstorming itu anda bisa menciptakan kerangkan tulisan konten blog anda. Saya yakin pasti akan memudahkan anda menulis nantinya.
2. Menulis
Untuk menulis saran saya biasakan memulai draftnya 1-2 hari sebelum jadwal anda akan mempublish tulisannya. Kenapa? Supaya anda bisa lebih memiliki waktu untuk memperkaya isi konten tulisan nantinya. Untuk proses menulisnya gunakan kerangka yang sudah anda siapkan tadi. Mulailah menulis bebas sesuai kerangkanya dan tidak perlu memikirkan pilihan kata-kata yang bagus dahulu. Tulis saja apa yang ada di dalam pikiran anda agar tulisan anda mengalir dengan natural.
Untuk perlatannya anda bisa menggunakan aplikasi pengolah kata apa saja yang biasa anda gunakan. Kalau saya lebih senang menggunakan notepad saja kemudian baru di copy paste seltelah tulisan jadi. Alasannya karena notepad sangat simpel untuk mengetik text tulisan saja. Namun tak ada masalah juga langsung menulis di editor blog anda. Tapi saya sangat tidak menyarankannya karena jika terjadi sesuatu yang vital seperti jendela tabnya tertutup atau apapun musibah yang terjadi sebelum anda sempat menyelamatkannya, wah alamat anda akan merasakan kekesalan yang mendalam
3. Revisi
Setelah tulisan anda jadi (saya masih menyebutnya draft), selanjutnya anda perlu merevisi tulisan tersebut. Bukan berarti melakukan perubahan yang banyak, tetapi anda bisa mengecek tulisan anda sudah benar atau tidak. Perhatikan penggunaan tanda baca, grammar, dan pengetikan tulisan anda jangan sampai salah agar bisa menciptakan image bahwa anda adalah orang yang teliti.
Jika dirasa ada yang perlu ditambah maka tambahlah isi kontennya. Jika dirasa ada yang perlu dikurangi maka kurangilah isi tulisan seperlunya. Begitu juga dengan menyusun ulang, atau menukar susunan tulisan konten anda.

4. Mengedit
Setelah revisi tulisan, saya rasa mengeditnya kembali juga dibutuhkan agar memastikan kembali tidak ada yang salah. Bedanya dalam tahap mengedit ini anda mungkin perlu melibatkan sudut pandang yang berbeda. Anggap anda telah membacanya sebagai pembaca bukan diri anda sendiri. Kira-kira bagaimana dilihat dari sudut pandang orang lain tentang tulisan yang telah anda buat tersebut.
Kemudian jika ingin menambahkan beberapa konten multimedia seperti gambar atau video yang akan memperkuat visual dari isi konten anda, pada tahap mengedit inilah sebaiknya anda masukkan konten multimedia tersebut. Anda bisa mencari gambar atau foto yang cocok untuk mengilustrasikan tulisan anda di situs online photo sharing seperti Flickr. Atau jika anda memiliki kemampuan di bidang desain anda bisa saja mengiustrasikan konten anda melalui coretan gambar buatan anda sendiri atau memotret foto langsung jika diperlukan.
5. Publish
Terakhir jika 4 tahap sebelumnya sudah terlewati dan sudah diperiksa minimal 3 kali baca ulang untuk memastikan tak ada yang salah dan janggal maka anda sudah bisa mempublish tulisan ke blog anda. Test terakir kalinya melalui browser anda dengan mengakses langsung posting anda tersebut dan lihat tampilan dan komposisi tulisannya sudah baik atau belum. Kalau anda sudah merasa tulisan anda pas, maka selanjutnya tinggal menunggu hasil komentar dari para pembaca anda.
Jadi 5 proses ini yang sebenarnya bisa dibilang sebagai proses menulis umum bisa anda gunakan ketika anda ingin menulis konten blog anda. Tidak mutlak harus seperti proses yang saya sebutkan karena pastilah setiap orang memiliki cara dan kebiasaan menulis masing-masing. Namun dengan tahap proses seperti ini saya rasa anda pasti akan terbantu dan bisa menghasilkan tulisan konten yang bagus
A. Pengertian Menulis
Menulis itu dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan yang terkandung dalam sebuah tulisan. Tulisan merupakan sebuah simbol atau lambang bahasa yag dapat dilihat dan disepakati pemakainya.
Dengan demikian, dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang terlibat yaitu:
1. Penulis sebagai penyampai pesan
2. Pesan atau isi tulisan
3. Saluran atau media berupa tulisan
4. Pembaca sebagai penerima pesan
Produk tulisan dapat berupa karya tulis fiksi dan non fiksi. Karya tulis fiksi dapat berbentuk cerita, puisi, pantun, atau karya sastra lainnya, Sedangkan karya tulis non fiksi yang sering juga disebut sebagai karya tulis ilmiah dapat berupa berita, reportase, artikel, feature, tinjauan ilmiah, laporan penelitian, buku, dan sebagainya. Perbedaan paling nyata antara karya tulis non fiksi bila dibandingkan dengan karya tulis fiksi adalah dalam hal penggunaan data lapangan. Bila karya tulis fiksi dapat berupa karangan hasil imajinasi penulis yang melibatkan emosi dan perasaan tanpa membutuhkan dukungan data yang riil dan dapat dipertanggungjawabkan, maka dalam karya tulis non fiksi data keadaan lapangan yang valid (tepat) sangat diperlukan. Penggunaan bahasa dan tata cara penulisannya juga harus mengikuti aturan yang ada. Jadi tidak sebebas membuat karya tulis fiksi.
B. Hubungan Menulis dengan Ketrampilan Berbahasa
Menulis dan ketrampilan berbahasa memiliki keterkaitan yang sangat erat. Kemampuan menulis tidak akan dapat dicapai tanpa ketrampilan berbahasa yang cukup.
Ketrampilan berbahasa ini mencakup empat komponen yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
1. Hubungan Menulis dengan Menyimak
Sewaktu menulis kita membutuhkan ispirasi, ide atau informasi untuk melahirkan sebuah tulisan. Hal itu dapat kita peroleh dari berbagai sumber antara lain:
a. Sumber tercetak, seperti buku, majalah, surat kabar, jurnal atau laporan
b. Sumber tak tercetak, seperti radio, televisi, ceramah, pidato wawancara, diskusi, dan obrolan.
Jika dari sumber tercetak, informasi itu diperoleh dengan membaca, maka dari sumber tak tercetak perolehan informasi itu dilakukan dengan menyimak.
Melalui menyimak, penulis dapat memperoleh ide atau informasi untuk tulisannya, tetapi juga menginspirasi tata saji dan struktur penyampaian lisan yang menarik hatinya, yang akan berguna untuk aktivitas menulisnya.
2. Hubungan Menulis dengan Berbicara
Antara aktivitas menulis dan berbicara, keduanya merupakan ketrampilan berbahasa yang bersifat aktif produktif. Artinya antara penulis dan pembicara berperan sebagai penyampaian atau pengirim pesan kepada pihak lain. Keduanya harus menentukan topik, tujuan, jenis informasi yang akan disampaikan.
Perbedaan mendasar antara menulis dan berbicara dapat dilihat pada tabel berikut:
Menulis Berbicara
1. Komunikasi terjadi tidak langsung, penulis dan pembaca tersekat ruang dan waktu
2. Penulis tampil setelah tulisanya dianggap siap. Dia memiliki waktu yang cukup leluasa untuk menyiapkan tulisan sebaik-baiknya.
3. Tanggapan pembaca terhadap tulisannya tidak dapat diperoleh seketika.
4. Penulis tidak dapat memperbaiki kekurangan atau kesalahan tulisan yang telah dipublikasikan dengan cepat.
1. Komunikasi terjadi secara langsung, pembicara dan yang diajak bicara (penyimak) saling berhadapan
2. Pembicara tampil langsung dengan segala kelebihan dan kekurangannya
3. Tanggapan penyimak (paham /tidak paham, suka/tidak suka) dapat ditangkap secara langsung saat itu juga.
4. Berdasarkan tanggapan itu, pembicara dapat secara langsung dapat segera mengubah atau memperbaiki pembicaraannya.
3. Hubungan Menulis dengan Membaca
Menulis dan membaca adalah kegiatan berbahasa tulis. Pesan yang disampaikan penulis dan diterima oleh pembaca dijembatani melalui lambang bahasa yang dituliskan. Baca tulis merupakan suatu kegiatan yang menjadikan penulis sebagai pembaca dan pembaca sebagai penulis.
C. Fase-fase Melahirkan Sebuah Tulisan
Sebagai proses, menulis merupakan serangkaian aktivitas yang terjadi da melibatkan beberapa fase, yaitu fase pra penulisan (persiapan), penulisan (pengembangan isi), dan pasca penulisan (telaah dan revisi atau penyempurnaan tulisan).
1. Tahap Pra Penulisan
Tahap ini merupakan fase persiapan menulis, seperti halnya pemanasan atau warming up bagi orang yang berolahraga. Fase ini merupakan fase untuk mencari, menemukan dan mengingat kembali pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh dan diperlukan penulis. Tujuannya untuk mengembangkan isi serta mencari kemungkinan-kemungkinan lai dalam menulis sehingga apa yang ingin ditulis dapat disajikan dengan baik.
Pada fase pra penulisan terdapat aktivitas memilih topik, menetapkan tujuan dan sasaran, mengumpulkan bahan atau informasi pendukung, serta mengorganisasikan ide atau gagasan dalam bentuk kerangka tulisan.
a. Menentukan Topik
Topik adalah pokok persoalan atau permasalahan yang menjiwai seluruh tulisan. Ada pertanyaan pemicu yang dapat digunakan untuk menentukan topik, misalnya: ”Saya mau menulis apa? Apa yang akan saya tulis? Tulisan saya akan berbicara tentang apa?”. Nah, jawaban atas pertanyaan tersebut berisi topik tulisan.
Topik harus dibedakan dengan tema, karena tema mencakup hal yang lebih umum. Sementara topik sudah mengarah pada hal yang lebih khusus. Jadi akan lebih pas bila topik tulisan disejajarkan dengan sub tema.
Masalah yang dihadapi dalam memilih dan menentukan topik tulisan adalah:
1) Sangat banyak topik yang harus dipilih, karena semua topik menarik. Untuk itu pilihlah yang paling dikuasai.
2) Tidak memiliki ide sama sekali. Untuk itu banyaklah membaca buku atau majalah/koran, berdiskusi dengan orang lain, melakukan pengamatan pada persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
3) Terlalu ambisius sehingga jangkauan topik yang dipilih terlalu luas.
b. Menetapkan Tujuan dan Sasaran
Tujuan dan sasaran penulisan harus diperhatikan agar tulisan dapat tersampaikan dengan baik. Tujuan dan sasaran penulisan akan mempengaruhi corak dan bentuk tulisan, gaya penyampaian dan tingkat kerincian isi tulisan.
Agar tulisan kita dapat dipahami oleh pembaca, kita harus memperhatikan siapa yang akan membaca tulisan kita, bagaimana level pendidikannya, status sosialnya dan apa yang diperlukannya?.
c. Mengumpulkan Bahan dan Informasi Pendukung
Ketika akan menulis, kita tidak selalu memiliki bahan atau informasi yag benar-benar siap dan lengkap. Untuk itulah sebabnya, sebelum menulis kita perlu mencari, mengumpulkan, dan memilih informasi yang dapat mendukung, memperluas, memperdalam dan memperkaya tulisan kita.
Tanpa pengetahuan dan wawasan yang memadai, maka tulisan kita akan dangkal dan kurang bermaka. Karena itulah, penelusuran dan pengumpulan informasi sebagai bahan tulisan sangat diperlukan.
d.Mengumpulkan bahan dan informasi untuk mendukung tulisan dapat dilakukan dengan berbagai cara:
1) Wawancara
2) Studi kepustakaan
3) Observasi
4) Diskusi kelompok
e. Mengorganisasikan Ide atau Gagasan
Mengorganisasikan ide atau gagasan penting dilakukan tulisan yang kita buat menjadi saling bertaut, runtut dan padu.
Untuk mempermudah mengorganisasikan ide atau gagasan, maka sebelum menulis kita perlu membuat kerangka tulisan. Kerangka tulisan ini memuat garis-garis besar tulisan yang akan kita buat.
Secara umum, kerangka tulisan terdiri atas:
1) Pendahuluan atau pengantar, yang berisi mengapa dan untuk apa menulis topik tertentu serta apa yang akan disajikan.
2) Isi, yang berisi butir-butir penting isi tulisan
3) Penutup.

2. Tahap Penulisan
Tahap penulisan merupakan tahap untuk menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Pada tahap ini kita akan mengembangkan butir demi butir ide yang terdapat dalam kerangka tulisan dengan memanfaatkan bahan atau informasi yang telah kita pilih dan kita kumpulkan.
Dalam mengembangkan ide, kita harus memperhatikan kedalaman dan keluasan isi, jenis informasi yang akan disajikan, pengembangan alinea, gaya dan cara pembahasan.
Yang perlu diperhatikan, menulis adalah suatu proses. Jadi kita jangan berharap, sekali tulis langsung menjadi bagus. Artinya, menjadi seorang penulis haruslah sabar. Jangan ingin sempurna hanya sekali tulis

3. Tahap Pasca Penulisan
Fase ini merupakan tahap penghalusan atau atau penyempurnaan tulisan yang kita hasilkan. Kegiatannya terdiri atas penyuntingan dan perbaikan (revisi). Penyuntingan (editing) adalah pemeriksaan unsur mekanik tulisan seperti penerapan ejaan, kelengkapan kata, pengkalimatan, pengalineaan, gaya bahasa, pencatatan kepustakaan, dan sebagainya. Sedangkan perbaikan adalah pemeriksaan isi tulisan. Kegiatan perbaikan ini dapat berupa penambahan, penggantian, penghilangan atau penyusunan kembali unsur-unsur tulisan.
Penyuntingan dan perbaikan perlu dilakukan karena tulisan yang kita buat tidak dapat langsung sempurna.
Selanjutnya agar penyuntingan dan perbaikan tulisan dapat efektif, maka kita perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Membaca seluruh tulisan
2) Menandai hal-hal yang perlu diperbaiki, atau memberikan catatan bila ada hal-hal yang harus diganti, ditambahkan dan disempurnakan.
3) Melakukan perbaikan sesuai dengan temuan.
Membuat Karya Tulis Ilmiah Populer
Secara umum, sekurang-kurangnya ada tiga proses menulis yang ditawarkan oleh David Nunan, yakni: (1) tahap pra-penulisan, (2) tahap penulisan, dan (3) tahap perbaikan (editing). Dalam prakteknya proses ini akan menjadi empat tahap, yaitu:
(1) tahap persiapan (pra-penulisan)
(2) tahap inkubasi
(3) tahap iluminasi
(4) tahap verifikasi/evaluasi

Hampir semua proses menulis (esai, opini/artikel, karya ilmiah, artistic, dan lain-lain) melalui keempat tahap ini. Berikut paparan keempat fase ini:

Pertama, tahap persiapan atau prapenulisan adalah ketika penulis menyiapkan diri, mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, menentukan fokus, mengolah informasi, menarik tafsiran terhadap realitas yang dihadapinya, berdiskusi, membaca, mengamati, dan lain-lain yang memperkaya masukan kognitif yang akan diproses selanjutnya.

Kedua, tahap inkubasi adalah ketika pembelajar memproses informasi yang dimilikinya sedemikian rupa, sehingga mengantarkannya pada ditemukannya pemecahan masalah atau jalan keluar yang dicarinya. Proses inkubasi ini analog dengan ayam yang mengerami telurnya sampai telur menetas menjadi anak ayam.

Ketiga, tahap iluminasi adalah ketika datangnya inspirasi atau insight, yaitu gagasan datang seakan-akan tiba-tiba dan berloncatan dari pikiran kita. Pada saat ini, apa yang telah lama kita pikirkan menemukan pemecahan masalah atau jalan keluar. Iluminasi tidak mengenal tempat atau waktu. Ia bisa datang ketika kita duduk di kursi, sedang mengendarai mobil, sedang berbelanja di pasar atau di supermarket, sedang makan, sedang mandi, dan lain-lain. Jika hal-hal itu terjadi, sebaiknya gagasan yang muncul dan amat dinantikan itu segera dicatat, jangan dibiarkan hilang kembali sebab momentum itu biasanya tidak berlangsung lama. Agar gagasan tidak menguap begitu saja, seorang pembelajar menulis yang baik selalu menyediakan ballpoint atau pensil dan kertas di dekatnya, bahkan dalam tasnya ke mana pun ia pergi.

Keempat, tahap terakhir yaitu verifikasi, apa yang dituliskan sebagai hasil dari tahap iluminasi itu diperiksa kembali, diseleksi, dan disusun sesuai dengan fokus tulisan. Mungkin ada bagian yang tidak perlu dituliskan, atau ada hal-hal yang perlu ditambahkan, dan lain-lain. Mungkin juga ada bagian yang mengandung hal-hal yang peka, sehingga perlu dipilih kata-kata atau kalimat yang lebih sesuai, tanpa menghilangkan esensinya.


Tahapan Umum Penulisan Karya Ilmiah
Tahap persiapan mencakup kegiatan menemukan masalah atau mengajukan masalah yang akan dibahas dalam penelitian. Masalah yang ditemukan itu didukung oleh latar belakang, identifikasi masalah, batasan, dan rumusan masalah. Langkah berikutnya mengembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoritis.
Langkah selanjutnya adalah mengajukan hipotesis atau jawaban atau dugaan sementara atas penelitian yang akan dilakukan. Metodologi dalam tahap persiapan penulisan karya ilmiah juga diperlukan . Metodologi mencakup berbagai teknik yang dilakukan dalam pengambilan data, teknik pengukuran, dan teknik analisis data. Kemudian tahap penulisan merupakan perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai. Terakhir adalah tahap penyuntingan dilakukan setelah proses penulisan dianggap selesai.
http://veblue.blogspot.com/2010/03/tahapan-penulisan-karya-ilmiah.html
Pra Penulisan
by cinta penulisan on Friday, February 26, 2010 at 2:01am
Semua orang bisa menjadi penulis. Akan tetapi untuk menjadi seorang penulis yang hebat dibutuhkan kerja keras. Mengapa dikatakan membutuhkan kerja keras? karena menulis tidak semudah apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Seorang penulis tidak bisa langsung menumpahkan semua ide-idenya ke dalam selembar kertas. Semua butuh proses, ada langkah-langkahnya. karena apabila semua ide-ide langsung dituangkan ke dalam bentuk karya tulis tanpa di proses terlebih dahulu, bisa diibaratkan tulisan tersebut nantinya hanya sebagai sampah yang berserakan saja, tidak koheren dan kohesif. Untuk menciptakan tulisan yang koheren dan kohesif, semua penulis harus terlebih dahulu melalui tiga tahapan menulis yaitu, pra penulisan, penulisan dan pasca penulisan. Akan tetapi saya sebagai penulis dalam essai ini hanya akan menjelaskan tahapan pra penulisannya saja sebagai tahap awal dalam menulis. Pada tahap pra penulisan, ada delapan langkah yang harus dilakukan penulis sebelum melakukan kegiatan penulisan.

Pemilihan tema adalah langkah awal yang dilakukan penulis dalam pra penulisan. Tema adalah pokok pikiran pengarang yang merupakan patok uraian dalam suatu tulisan. Untuk penulis pemula sebaiknya, mencari tema yang paling di kuasai atau yang paling di sukai agar nantinya dalam proses penulisannya dapat dengan mudah mengembangkan tulisannya.

Setelah tema ditentukan. Langkah selanjutnya adalah menentukan topik dan membatasi ruang lingkup topiknya. Dalam menentukan topik, penulis dapat mengunakan metode Braind Storming ataupun Mind Mapping. Yang dimaksud dengan braind Storming dan Mind Mapping di sini adalah menuangkan semua ide-ide atau gagasan untuk kemudian di seleksi kembali gagasan-gagasannya. Setelah mendapatkan gagasan yang paling menarik, lalu dari gagagan tersebut kita batasi topik itu menjadi lebih sempit, agar tulisan yang dibuat nantinya akan terfokus dan tulisannya tidak melenceng kemana-mana.

Sebuah bentuk karya tulis pasti mempuyai tujuan yang terkandung di dalamnya. Dengan adanya tujuan seorang penulis akan dapat mengendalikan secara menyeluruh tulisan yang akan dibuatnya. Selain itu penulis juga akan tahu apa yang akan selanjutnya dilakukan pada tahap penulisan. Dalam penentuan tujuan, penulis akan dapat memperkirakan seberapa luas ruang lingkup bahasannya yang akan di tulis, kemudian organisasi tulisan dan sudut pandang yang akan digunakan dapat di ketahui pula dalam penentuan tujuan.

Seorang penulis dalam membuat sebuah karya tulis membutuhkan bahan atau data untuk mendukukung ide-idenya. Apabila seorang penulis tidak mempunyai data atau bahan bagaimana mungkin ia dapat mengembangkan tulisannya. Penulis yang mempunyai wawasan yang luas tetntunya tidak hanya mencari data dari satu sumber saja, melainkan dari berbagai macam sumber untuk dijadikan bahan penulisan. Sumber data dapat diperoleh dari sumber utama yaitu, pengalaman dan inferensi dari pengalaman. Akan tetapi kebanyakan penulis lebih sering menggunakan pengalaman sebagai bahan tulisan. Penulis bisa mendapatkan bahan dari pengalaman dengan melakukan observasi langsung ke lapangan atau hanya melalui sumber-sumber bacaan saja seperti dari buku atau internet.

Sebuah tulisan atau essai yang baik tentunya akan memiliki sebuah kalimat tesis. Kalimat tesis menjadi sangat penting dalam karya tulis, karena kalimat tesis akan mejadi gagasan pokok yang merupakan kunci dari seluruh rangkaian tulisan yang di buat. Sebelum membuat kalimat tesis pastikan terlebih dahulu topik yang dipakai sudah terbatas, agar nantinya kalimat tesis dapat lebih efektif dan bersifat lebih menyeluruh mewakili kalimat topik di setiap paragraf. Untuk penempatannya kalimat tesis diletakan pada akhir paragraf pertama, sesudah beberapa kalimat pendahuluan. Kalimat tesis harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu, harus dinyatakan dengan kalimat lengkap. bersifat terbatas dan bagian-bagian tesis harus saling berhubungan serta tidak boleh mengandung unsur-unsur yang tidak berkaitan.

Setelah semua langkah-langkah dari mulai penentuan tema sampai pembuatan kalimat tesis telah dilakukan, langkah terakhir dalam tahap pra penulisan adalah pembuatan kerangka karangan. Dari penulis pemula sampai penulis yang sudah berpengalamn sekalipun harus membuat kerangka karangan sebelum melakukan tahap penulisan. Hal ini dikarenakan kerangka karangan akan sangat membantu seorang penulis agar dalam tulisan yang dibuat dapat lebih terarah dan tersusun rapi sehingga hubungan antar kalimatnya dapat saling berhubungan. Susunan kerangka karangan terdiri dari satu paragraf pendahuluan, satu paragraf penutup serta beberapa paragraf isi. Pada paragraf isi, dibuat kalimat topik lalu dari kalimat topik tersebut di pecah menjadi beberapa sub-sub topik.

Jadi, mulai dari penulis pemula sampai penulis yang sudah profesional pun, harus tetap mengunakan langkah-langkah pra penulisan, mungkin sebagian orang menganggap langkah-langkah ini sebagai hal yang sepele, namun di lain sisi tahap pra penulisan dapat membantu dan menuntun penulis agar pada saat tahap penulisan nantinya, tulisan yang dihasilkan dapat koheren dan kohesif. Tulisan atau karangan dapat dikatakan kohesif dan koheren apabila memenuhi syarat berikut, karangan tersebut mempunyai kalimat tesis yang dapat mewakili seluruh isi tulisan serta setiap paragraf mempunyai kalimat topik dan hubungan antara kalimat topik dengan kalimat penjelas saling berkaitan. Untuk kita sebagai seorang penulis pemula yang baru seumur jagung dalam dunia tulis menulis, mulailah menulis dari pengalaman yang terjadi sehari-hari. Cobalah dari pengalaman sehari-hari tersebut kita tuangkan semua pikiran, pengalaman dan ide-ide ke dalam bentuk karya tulis, supaya kegiatan menulis tidak hanya dijadikan sebuah pekerjaan untuk mencari uang, melainkan juga dapat dijadikan sebuah kesenangan agar kebiasan menulis tertanam dalam jiwa kita.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=330387971103

Langkah-Langkah Menulis
Menulis merupakan kegiatan yang profuktif dan ekspresif, sehingga penulis harus dapat memanfaatkan kemampuan menggunakan tata tulisan, struktur bahasa, dan kosakata. Bila ingin berhasil dalam menulis, sebaiknya mengikuti langkah-langkah tertentu. Menurut Sabarti Akhadiah (dalam Kartimi, 2006: 6-7) sebagai berikut:
1)      Tahap perencanaan
         a.         Pemilihan topik
         b.         Pembatasan topik/perumusan tujuan
          c.         Penyusunan kerangka karangan
2)      Tahap pelaksanaan penulisan
Tahapan ini merupakan tahap pengembangan kerangka karangan yang sudah disusun pada tahap perencanaan dengan menggunakan bahan-bahan sesuai dengan topik yang telah dipersiapkan. Pada tahap penulisan ini perlu diperhatikan:
         a.          Penyusunan bahasanya, yaitu:
1.   Penulisan paragraf yang benar
2.   Penulisan kalimat yang efektif
3.   Penulisan pilihan kata yang tepat
4.   Penulisan ejaan yang benar

         b.          Teknik penulisan yang sesuai dengan aturan yang berlaku:
1.      Cara menulis judul/sub judul
2.      Cara menulis kutipan/catatan kaki
3.      Cara menulis daftar pustaka
4.      Teknik pengetikan

3)      Tahap pemeriksaan/revisi
Apabila karangan sudah selesai ditulis, tahap pemeriksaan perlu dilakukan agar tulisan itu lebih sempurna. Mungkin ada yang perlu diperbaiki, dibuang karena informasi itu tidak relevan atau bisa saja ditambah dan diperluas. Pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh yaitu:
a.       Pemeriksaan melalui kerangka dilihat dari sudut sistematika dan logika;
b.      Pemeriksaan bahasa menyangkut penulisan paragraf, kalimat efektif, pilihan kata, da ejaan;
c.       Pemeriksaan teknik penulisan. Apakah sudah sesuai dengan pedoman umum ejaan yang disempurnakan?

Sejalan dengan pendapat Sabarti Akhadiah, menurut Hasani (2006: 6) dalam menyusun tulisan diperlukan tahap-tahap sebagai berikut:

1)      Tahap Prapenulisan/ Tahap Perencanaan
Tahap prapenulisan merupakan tahap persiapan sebelum menulis. Dalam tahap ini langkah yang ditempuh sebagai berikut:

a.      Menentukan topik
      Topik diperoleh dari pengalaman, membaca, pengamatan, pendapat, sikap, dan tanggapan yang dipertanggungjawabkan.

b.      Membatasi topik
      Membatasi topik berarti mempersempit dan mengkhususkan lingkup pembi-caraan. Topik yang terlalu luas akan menghasilkan tulisan yang dangkal, tidak mendalam. Topik yang terlalu sempit akan menghasilkan tulisan yang tidak jelas.
c.       Menentukan tujuan

      Tahap menentukan tujuan berguna sebagai pola yang didasari tulisan secara menyeluruh. Tujuan yang dirumuskan secara jelas karena merupakan sesuatu yang ingin dicapai dalam kegiatan menulis.

d.      Membuat kerangka karangan
      Kerangka tulisan merupakan rencana kerja penulis dalam mengembangkan gagasan. Kerangka tulisan yang disusun secara cermat akan sangat membantu penulis dalam hal-hal berikut:
1.      Membantu penulis dalam mengembangkan tulisan secara teratur sesuai dengan susunan pikiran dalam kerangka.
2.      Mencegah penulis mengulangi bahasa pada bagian-bagian sebelumnya.
3.      Menyajikan pikiran-pikiran pokok yang dapat dirinci dan diperhalus.
4.      Mencegah penulis ke luar dari sasaran yang telah ditentukan sesuai dengan topik atau judul.
5.      Membantu penulis dalam mengatur urusan pembicaraan
6.      Menunjukkan kepada penulis bahan-bahan penulisan yang diperlukan dalam pengembangan gagasan.

e.      Menentukan bahan
      Bahan penulisan adalah semua informasi atau data yang digunakan untuk mencapai tujuan penulisan. Bahan penulisan dapat berupa rincian, sejarah kasus, contoh penjelasan, definisi, fakta, hubungan sebab akibat, hasil penelitian, dan sebagainya. Bahan penulisan dapat diperoleh dari berbagai sumber.

2)      Tahap penulisan
Tahapan penulisan merupakan bahasan dari semua topik yang terdapat dalam kerangka karangan. Dalam penulisan karangan sangat diperlukan pilihan kata yang tepat, cermat, dan lugas, sehingga dalam tahap penulisan ini, penulis harus dapat mencurahkan seluruh penguasaan kosakata yang dimiliki. Tulisan yang baik adalah tulisan yang tidak lepas dari kaidah-kaidah kebahasaan yang berlaku. Oleh karena itu, dalam hal ini karangan harus ditulis dengan ejaan yang tepat, tanda baca yang tepat, dan sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku.

3)      Tahap revisi
Pada tahap ini penulis harus membaca kembali tulisan yang telah dibuat. Kegiatan membaca kembali ini untuk melihat secara teliti bagian-bagian yang perlu mendapat perbaikan, terutama dalam penggunaan ejaan, tanda baca, pilihan kata, paragraf, logika kalimat, sistematika tulisan, pengetikan, dan sebagainya.
Menulis merupakan suatu proses. Didalamnya diperlukan proses-proses agar tulisan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam menentukan tema yang akan diangkat diperlukan intuisi yang kuat dalam mengembangkan gagasan yang akan dituangkan. Konsentrasi dan fokus pada apa yang dikerjakan, setelah selesai bacalah kembali dan lakukan proses revisi agar apa yang ditulis menghasilkan tulisan yang baik.
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).
Metode dalam menalar
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

Suatu penelitian pada hakekatnya dimulai dari hasrat keingintahuan manusia, merupakan anugerah Allah SWT, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan maupun permasalahan-permasalahan yang memerlukan jawaban atau pemecahannya, sehingga akan diperoleh pengetahuan baru yang dianggap benar. Pengetahuan baru yang benar tersebut merupakan pengetahuan yang dapat diterima oleh akal sehat dan berdasarkan fakta empirik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah.
Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.
Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70). Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.
Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi. Proses berpikir refleksi ini diperkenalkan oleh John Dewey (Burhan Bungis: 2005; 19-20)
Penalaran Induktif dan Penalaran Deduktif
Penalaran Induktif dan Penalaran Deduktif
Penalaran induktif adalah penalaran yang mengambil contoh-contoh khusus yang khas untuk kemudian diambil kesimpulan yang lebih umum. penalaran ini memudahkan untuk memetakan suatu masalah sehingga dapat dipakai dalam masalah lain yang serupa. catatan bagaimana penalaran induktif ini bekerja adalah, meski premis-premis yang diangkat benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, kesimpulannya belum tentu benar. tapi kesimpulan tersebut mempunyai peluang untuk benar. (1)

contoh penalaran induktif adalah :
kerbau punya mata. anjing punya mata. kucing punya mata
:. setiap hewan punya mata

Penalaran induktif membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang diangkat. untuk itu penalaran induktif erat dengan pengumpulan data dan statistik.

Penalaran induktif ini mengangkat 1 kasus untuk ditarik dalam kesimpulan umumnya. contohnya kurang banyak. dan meski penalaran induktif sudah kuat dengan contoh yang banyak, kesimpulan induktif yang dihasilkan pun masih bisa dipertanyakan keabsahannya. sementara lebih jauh,

Berbeda dengan penalaran induktif, penalaran deduktif adalah menarik kesimpulan khusus dari premis yang lebih umum. jika premis benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, maka dapat dipastikan hasil kesimpulannya benar. jika penalaran induktif erat kaitannya dengan statistika, maka penalaran deduktif erat dengan matematika khususnya matematika logika dan teori himpunan dan bilangan. contoh penalaran deduktif adalah :

- semua hewan punya mata
- anjing termasuk hewan
:. anjing punya mata

http://agusheriyanto-media.blogspot.com/2009/06/penalaran-induktif-dan-penalaran.html

     1. PENGERTIAN PENELARAN SECARA UMUM
1.1 PENGERTIAN MENURUT PARA AHLI
Shurter dan Pierce (dalam Shofiah, 2007 : 14) menjelaskan bahwa secara garis besar terdapat dua jenis penalaran yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif adalah cara menarik kesimpulan khusus dari hal-hal yang bersifat umum. Sedangkan penalaran induktif adalah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat khusus.

Menurut Suriasumantri (dalam Shofiah, 2007 :15) penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang berupa penarikan kesimpulan yang umum atau dasar pengetahuan tentang hal-hal yang khusus. Artinya,dari fakta-fakta yang ada dapat ditarik suatu kesimpulan.
Kesimpulan umum yang diperoleh melalui suatu penalaran induktif ini bukan merupakan bukti. Hal tersebut dikarenakan aturan umum yang diperoleh dari pemeriksaan beberapa contoh khusus yang benar, belum tentu berlaku untuk semua kasus.
jadi, Penalaran adalah proses berfikir yang bertolak dari pengamatan indera yang menghasikan sejumlah konsep dan pengertian.
         2. PENGERTIAN PENALARAN INDUKTIF
Proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atausikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakat-fakat yang bersifat khusus, prorsesnya disebut dengan induksi.
        3. JENIS-JENIS PENALARAN INDUKTIF
3.1 GENERALISASI
Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu.
Contoh :
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.