Tuesday, June 19, 2012

HAKIKAT MORFOLOGI


HAKIKAT MORFOLOGI

Hakikat mordologi, di dalam kajian linguistik morfologi berarti ilmu mengenai bentuk2 dan pembentukan kata. Sedangkan di dalam kajian biologi morfologi berarti ilmu mengenai bentuk2 sel2 tumbuhan atau jasad2 hidup.  *Morfologi dalam liguistik, sebagai kajian yang terletak di antara kajian fonologi dan sintaksis, maka kajian morfologi itu mempunyai kaitan baik dengan fonologi maupun dengan sintaksis. Keterkaitannya dengan fonologi jelas dengan adanya kajian yang disebut morfonologi atau morfofonemik yaitu ilmu yang mengkaji terjadinya perubahan fonem akibat adanya proses morfologi, seperti munculnya fonem /y/ pada dasar hari  bila diberi sufiks-an.
Wacana adalah satuan bahasa terbesar atau tertinggi, yang berisi satu satuan ujaran yang lengkap dan utuh, dan dibangun oleh kalimat atau kalimat2 yang dihubungkan secara kohesi dan koherensi. *Kalimat adalah satuan sintaksis yang dibangun oleh konstituen dasar (biasanya berupa klausa), dilengkapi dengan konjungsi (bila diperlukan) disertai dengan intonasi final (deklaratif, interogatif, imperative, atau interjektif). *Klausa adalah satuan sintaksis yang berinti adanya sebuah predikat dan adanya fungsi lainnya. Maka sering dikatakan klausa adalah konstruksi yang bersifat predikatif. *Frase adalah satuan sintaksis berupa kelompok kata yang posisinya tidak melewti batas fungsi sintaksis (subjek, predikat, objek, atau keterangan).
Kata dalam sintaksis merupakan satuan terkecil yang biasa dan dapat menduduki salah satu fungsi sintaksis (subjek, predikat, objek, atau keterangan) dalam morfologi merupakan satuan terbesar, dibentuk melalui salah satu proses morfologi (afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimasi, dan konversi). *Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang bermakna (secara inheren). *Fonem adalah satuan bunyi terkecil (dalam kajian fonologi) yang dapat membedakan makna kata. *Fon adalah satuan bunyi bahasa yang dilihat tanpa memperhatikan statusnya sebagai pembeda makna kata (dalam kajian fonetik).
Morfologi dengan leksikologi, leksikologi adalah ilmu mengenai leksikon yang satuannya disebut leksem. Morfologi lebih mengarah pada masalah proses pembentukan kata, sedangkan leksikologi lebih mengarah pada kata yang sudah jadi, baik yang terbentuk secara arbitrer maupun yang terbentuk sebagai hasi proses morfologi. *Morfologi dengan leksikografi, leksikografi adalah kelanjutan kerja dari leksikologi, dalam arti kalau hasil kerja leksikologi dituliskan, maka proses kerja penulisan itu adalah disebut leksikografi, dan hasilnya adalah sebuah kamus. *Morfologi dengan etimologi, morfologi membicarakan proses pembentukan kata yang berlaku secara umum sebagai suatu system berkaidah, sedangkan etimologi membicarakan pembentukan atau terbentuknya kata atau usul2 yang tidak berkaidah. *Morfologi dengan filologi, morfologi membicarakan proses pembentukan kata dari sebuah dasar melalui salah satu proses morfologi sehingga terjadi kata, sedangkan filologi membicarakan kata yang terdapat dalam naskah dalam kaitannya dengan sejarah dan budaya.
Objek kajian morfologi adalah satuan2 morfologi, proses2 morfologi dan alat2 dalam proses morfologi itu. *Makna gramatikal adalah makna yang muncul dalam proses gramatikal.  *De Saussure membedakan adanya dua macam hubungan yang terdapat antara satuan2 bahasa yaitu hubungan sintagmatik dan hubungan asosiatif. Sintagmatik adalah hubungan yang terdapat antara satuan2 bahasa di dalam kalmat yang konkret tertentu. Asosiatif adalah hubungan antara satuan2 bahasa dalam kalimat tertentu dengan yang terdapat di dalam kalimat lainnya. *Struktur adalah hubungan bagian2 kalimat secara linear. Sistem adalah hubungan bagian2 kalimat yang satu dengan kalimat yang lain.
Morfem dasar adalah morfem yang dapat menjadi dasar dalam suatu proses morfologi. *Morfem wujud adalah morfem yang secara nyata ada, tetapi yang terwujud kehadirannya tidak nyata.*Dalam bahasa Indonesia dibedakan adanya morfem afiks yang disebut: Prefiks, yaitu afiks yang dibubuhkan dikiri bentuk dasar, yaitu prefix ber-, me-, per-, di-, ter, se-, ke-. Infiks, yaitu afiks yang dibubuhkan di tengah kata, biasanya pada suku awal kata, yaitu infiks –el-, -em-, -er-. Sufiks, adalah afiks yang dibubuhkan di kanan bentuk dasar, yaitu sufiks –kan, -I, -an, -nya.
 Konfiks, yaitu afiks yang  dibubuhkan dikiri dan dikanan bentu dasar secara bersamaan karena konfiks ini merupakan satu kesatuan afiks. Yaitu konfiks ke-an, ber-an, pe-an, per-an, se-nya. *Dalam bahasa Indonesia ada bentuk kata yang berklofiks  yaitu kata yang dibubuhkan afiks pada kiri dan kanannya, tetapi pembubuhannya itu tidak sekaligus, melainkan bertahap. Yaitu berklofiks me-kan, me-I, diper-kan, diper-I, ter-kan, ter-I, ter-per, teper-kan, teper-i. *Dalam ragam nonobaku ada afiks nasal yang direalisasikan dengan nasal m-, n-, ny-, ng-, nge-. Kridalaksana (1989) menyebutkan afiks nasal ini dengan istilah simufiks. Contoh: nulis, nyisir, ngambil, ngecat.
Makna leksikal adalah makna yang secara inheren dimiliki oleh setiap bentuk dasar (morfem dasar atau akar). *Makna idiomatical adalah makna yang tidk ada hubungannya dengan makna leksikal maupun makna gramatikal dari unsur2 pembentukannya. *Yang termasuk kelas terbuka adalah kata-kata yang termasuk dalam kelas verba, nomina, dan ajektifa.